Wednesday, August 15, 2012

Review: The Fault in Our Stars - John Green

Judul: The Fault in Our Stars
Penulis: John Green
Penerbit: Dutton Books
Tebal: 318 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 5/5
Book Synopsis:
Despite the tumor-shrinking medical miracle that has bought her a few years, Hazel has never been anything but terminal, her final chapter inscribed upon diagnosis. But when a gorgeous plot twist named Augustus Waters suddenly appears at Cancer Kid Support Group, Hazel s story is about to be completely rewritten.

.....

I don't know what to write, actually. "The Fault in Our Stars" is my very first John Green's. Dan sebenarnya ceritanya standar, tentang anak perempuan berumur 16 tahun yang mengidap thyroid cancer stadium empat bernama Hazel Grace Lancaster. Ia begitu sadar bahwa dirinya bisa "pergi" kapan saja, dan ia sudah siap akan hal tersebut. Saat menghadiri Support Group, Hazel bertemu dengan Augustus Waters, seorang anak laki-laki berumur 17 tahun yang sedang dalam masa pemulihan dari penyakit osteosarcoma-nya. Sejak saat itu, baik hidup Hazel maupun Augustus pun tak lagi sama.

Kalau baca ringkasan ceritanya aja, mungkin novel ini terkesan melankolis dan cengeng banget. Well, kalau melankolis, mungkin iya. Tapi... cengeng? I don't think so. Cara John Green merajut kata demi kata terasa enak banget untuk dibaca. Asyik. Nggak membosankan. Dan... nggak cengeng. Sejujurnya memang "The Fault in Our Stars" ini bikin saya sempat nangis walaupun nggak sampai tersedu-sedu. Cuma sebatas berkaca-kaca. But, still, nggak cengeng. Di satu sisi, novel ini memang heartbreaking banget deh, apalagi ketika - spoiler! - mulai masuk bagian-bagian terakhir. Namun, di sisi lain, membaca kisah Hazel dan Augustus ini terasa heartwarming sekali. Bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama, saling menguatkan, berdiskusi tentang hidup dan kehilangan, pujian-pujian serta humor-humor yang saling mereka lontarkan, dan lain-lain. Nggak kehitung deh berapa kali saya mendesah penuh keharuan *lebay* sambil memegangi dada ketika membaca novel ini. :')

Saya juga sukaaaa sama karakter-karakter di novel ini. Terasa nyata. Hazel yang realistis, Augustus yang ceria, dan bagaimana kedua orangtua mereka begitu protektif dan cemas terhadap mereka... digambarkan dengan cukup baik oleh John Green. I love how they interact to each other! Rasanya kayak lagi dengerin mereka bercakap-cakap aja gitu. Dan dari percakapan-percakapan tersebut, saya pribadi jadi menemukan banyak quotes keren yang benar-benar relatable banget sama kehidupan ini! 

Well, mungkin saya menilai novel ini terlalu berlebihan. Tapi, bukannya pada akhirnya semua balik lagi ke selera masing-masing? Hehehe. Yang jelas, satu pesan yang nancep banget di pikiran saya, yang sekaligus merupakan salah satu quotes favorit saya dalam novel ini adalah bahwa, "The world is not a wish-granting factory."

Menurut saya, inti kekuatan dari "The Fault in Our Stars" ada pada kelebihan John Green dalam meracik kata-kata. Dan hal tersebut lah yang membuat saya ingin membaca karya-karyanya yang lain. I already bought his "Paper Towns" and I'll read it as soon as I can. I will.

8 comments:

  1. blogwalking here..review nya bagus!(y)

    ReplyDelete
  2. I use the same exact word to describe this book: heartwarming!

    ReplyDelete
  3. Yes, but it's also heartbreaking at the same time. :')

    ReplyDelete
  4. where can i buy this book in indonesia? please help

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, I bought TFiOS at one of the Periplus bookstores in Surabaya. You also can buy TFiOS at Kinokuniya, I guess. TFiOS is adapted into bahasa, too, so you can find it at Gramedia. :)

      Delete
  5. Bacanya yang terjemahan atau yang asli? Lebih bagus mana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku baca yang versi asli, bukan terjemahan, jadi nggak bisa ngasih pendapat lebih bagus yang mana. :)

      Delete