Wednesday, August 13, 2014

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 - Pidi Baiq

Judul: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: DAR! Mizan
Tebal: 332 halaman
Tahun Terbit: 2014
Rating: 4/5
Paperback Quotes:
"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Dilan 1990)

.....

"Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" merupakan karya Pidi Baiq yang pertama kali saya baca, jadi saya berusaha untuk nggak menaruh ekspektasi apa-apa. Sejujurnya, saya beli novel ini secara random, cuma berdasarkan cover dan sinopsis. Well, buku ini bahkan nggak ada sinopsisnya, tapi quotes dan testimoni yang ada di bagian belakang buku cukup untuk membuat saya membawa buku ini ke meja kasir (meskipun sebelumnya sempat browsing dulu di Goodreads untuk tahu average rating-nya :p). Cerita dari "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" ini sederhana, yakni tentang Dilan, seorang siswa SMA Negeri di Bandung yang jatuh cinta dengan siswi baru pindahan dari Jakarta; Milea. Tidak mengetahui bahwa sebetulnya Milea telah memiliki pacar di ibu kota, Dilan pun melakukan berbagai usaha untuk mendekati Milea.

Novel ini bisa dibilang merupakan teenlit. Hanya saja, setting-nya pada tahun 1990, saat masih banyak pohon berdiri, jalanan masih sepi, dan pusat-pusat perbelanjaan belum banyak berdiri, membuat Bandungseperti yang dideskripsikan pada novelterasa begitu romantis. Belum lagi masih terbatasnya penggunaan ponsel dan internet, jadi nggak ada yang namanya drama-drama ala cewek cheerleader penguasa sekolah dan cewek cupu yang ditaksir cowok populer (well, I used to read this kind of teenlit and guess what, I enjoyed it. :p). Hei, tapi bukan berarti karena nggak ada drama semacam itu, lantas cerita dari novel ini jadi nggak asik. Novel "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" memang memiliki narasi yang tidak banyak, diksinya juga sederhana walaupun sedikit baku, tapi justru menurut saya, di situlah kekuatannya. Dialog-dialog yang terjadi di antara Dilan dan Milea sukses bikin saya senyum, ketawa, tertegun, dan ikutan malu sendiriseolah-olah saya yang diajak ngobrol Dilan. Hahahaha. Belum lagi berbagai perilaku Dilan yang.... duh, bikin saya kangen pengin baca ulang.

Dilan memang unik. Nyeleneh. Ia merupakan anggota dari geng motor yang kadang ikut tawuran melawan sekolah lain. Nakal, tapi tidak brengsek. Ia tidak takut bertindak untuk sesuatu yang ia anggap benar. Karena nyeleneh itulah, cara-cara yang diambil Dilan untuk merebut hati Milea pun jadi tidak biasa dan bikin saya terenyuh. Pada hari ulang tahun Milea, misalnya, Dilan memberikan buku TTS yang telah dijawab penuh olehnya sebagai kado, karena Dilan tidak mau Milea pusing mengisinya. Atau ketika Milea sakit dan Dilan mengirim tukang pijit langganannya ke rumah Milea untuk memijit gadis pujaannya itu. Satu hal lagi yang bikin saya makin naksir sama Dilan, yakni hobi membacanya. Iya, nakal-nakal begitu, Dilan doyan membaca buku-buku sastra. Makanya, nggak heran kalau dia diam-diam suka menulis puisi, yang beberapa di antaranya ditujukan bagi Milea:
Milea 1
Bolehkah aku punya pendapat?
Ini tentang dia yang ada di bumi
Ketika Tuhan menciptakan dirinya
Kukira Dia ada maksud mau pamer
Milea awalnya merasa risih dan terganggu dengan kelakuan Dilan, apalagi ketika itu Milea sedang pacaran jarak jauh dengan Beni yang ada di Jakarta. Ia pun merasa bersalah dan bingung ketika mendapati dirinya mulai menikmati segala perlakuan nyeleneh Dilan terhadapnya. Nah, karena novel ini diceritakan dari sudut pandang Milea, secara pribadi saya cukup dapat merasakan apa yang dirasakan dan dialami Mileatermasuk ketika ia dan Dilan mulai mengobrol tentang hal-hal absurd tapi manis banget! Di sisi alin, sebagai pembaca wanita, saya jadi merasa dihargai oleh Dilan melalui perilaku dan kata-kata yang diucapkannya pada Milea.
"Lia, kalau kamu merasa tidak kuperhatikan, maaf, aku sibuk memantau lingkunganmu, barangkali ada orang mengganggumu, kuhajar dia!" 
"'Aku pernah meramal kamu nanti akan naik motorku,' kata Dilan. 'Ingat?'
'Iya.'
'Bantu aku.'
'Bantu apa?'
'Mewujudkannya.'" 
"'Nah, sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu.'
'Kenapa?' kutanya.
'Berat,' jawab Dilan. 'Kau gak akan kuat. Biar aku saja.'"
Nah, kan, GIMANA SAYA NGGAK JATUH CINTA SAMA DILAN, COBA? Sayangnya, ternyata novel ini belum selesai. Seneng, sih, masih ada lanjutannya, tapi saya udah nggak sabar nunggunya. Saya baca "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" ini aja sengaja dipelan-pelanin, nggak mau kehilangan Dilan dan segala perilaku manisnya dengan Milea, meskipun akhirnya habis dibaca juga dalam waktu sehari. Intinya, sih, novel ini nagih. Ehehehe. Semoga cepat bertemu lagi, ya, Dilan dan Milea!

18 comments:

  1. Gaya review nya simple dan mudah dinikmati.
    Makasih bgt buat sepenggal dialognya yang buat aku yang awalnya rada gimana gitu sama buku ini jadi pengen beli ><

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, makasih ya! Semoga nanti suka juga dengan novelnya. ;)

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. harganya berapa yaa? lagi pengen borong buku nih. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, maaf baru balas. Dulu aku beli kalau nggak salah sekitar 40-50ribuan. :D

      Delete
  4. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  5. Aaaaah ini aku juga suka banget! Dan bener, bacanya dipelan2in karena takut cepet habis hahaha. Sukses bikin senyum2 sendiri di mana pun hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berasa ikut digombalin sama Dilan, yaaaa. :))

      Delete
  6. Aku juga sukaaa banget sama Dilannnya suka senyum-senyum sendiri penasaran sama buku keduanya semoga enggak lama ya hehe :) btw referensimu oke dan gak ribet bahasanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kabarnya sih jilid duanya bakal keluar November ini. Semoga bener hehehe. ;) Wah, makasih yaaa! Makasih juga udah mau baca. :D

      Delete
  7. dimana Dilan, ya. aku pengen dia hahaha :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin bisa coba cari dulu di kota tempat tinggalnya di Bandung kali ya. :))

      Delete
  8. Halo.. Saya juga penyuka novel Dilan, dan penunggu Dilan ke-2 hehe. Baca review ini bikin mau baca ulang novelnya, padahal udah berkali-kali.

    Terimakasih sudah menulis ini, saya suka :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiiiii! Terima kasih udah baca dan suka, ya. :D Hehehe sama, nggak bosen-bosen baca segala tingkah lakunya Dilan. Semoga sekuelnya cepet terbit!

      Delete
  9. pengen deh hidup di tahun 90,,tapi udah gde kaya sekarang

    ReplyDelete
  10. Hai, aku mau nanya dong. Apakah cerita yang dibikin sama ayah Pidi Baiq ini berdasarkan kisah nyata? :))

    ReplyDelete
  11. Asyik aku dah baca .....kebetulan aku tinggal di bandung tahun 90 an jadi ikut terbawa suasananya

    ReplyDelete
  12. Aku baru baca nih buku nyaa...
    sambil ngebayangin klo aja ada dilan" lain yg ky gt djaman skr...
    Oia cerita lanjutannya udh terbit blm sih???

    ReplyDelete