Tuesday, November 27, 2012

Review: Looking for Alaska - John Green

Judul: Looking for Alaska
Penulis: John Green
Penerbit: Speak
Tebal: 221 halaman
Tahun Terbit: (Edisi) 2012
Rating: 5/5
Paperback Synopsis:
Before. Miles "Pudge" Halter's whole existence has been one big nonevent, and his obsession with famous last words has only made him crave the "Great Perhaps" (Fran├žois Rabelais, poet) even more. Then he heads off to the sometimes crazy, possibly unstable, and anything-but-boring world of Culver Creek Boarding School, and his life becomes the opposite of safe. Because down the hall is Alaska Young. The gorgeous, clever, funny, sexy, self-destructive, screwed-up, and utterly fascinating Alaska Young, who is an event unto herself. She pulls Pudge into her world, launches him into the Great Perhaps, and steals his heart.

After. Nothing is ever the same.

.....

"Looking for Alaska" bercerita tentang seorang remaja laki-laki nerd bernama Miles "Pudge" Halter yang suka banget membaca buku biografi orang-orang terkenal (or not so famous) dan menghapalkan kata-kata terakhir mereka sebelum meninggal. Salah satu favoritnya adalah kata-kata terakhir dari seorang penyair bernama Fran├žois Rabelais yang berbunyi 'I go to seek a Great Perhaps'. Selama hidupnya, Pudge merasa belum menemukan sesuatu yang hebat dan fantastik. Maka, demi menemukan great perhaps dalam hidupnya, suatu hari Pudge pun memutuskan untuk pindah ke sebuah boarding school bernama Culver Creek di Alabama, tempat yang sama di mana Ayahnya dulu pernah bersekolah. Di sana, ia pun bertemu dengan teman-teman yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Sekilas, mungkin ringkasan cerita "Looking for Alaska" terdengar seperti novel-novel teenlit yang sering kita temui di berbagai toko buku. But, booooy, you're so wroooong! Lagi-lagi saya harus kasih standing applause seheboh-hebohnya pada John Green atas karakter-karakternya yang luar biasa di buku ini. Selain Pudge yang cukup nerd dan gawky, ada pula teman sekamar Pudge bernama Chip "Colonel" Martin yang, bisa dibilang, bertolak belakang dengan Pudge. Namun, hal tersebut justru yang membuat mereka seolah melengkapi satu sama lain. Ada pula Takumi, seorang murid asal Jepang yang sesekali mencuri spotlight sang tokoh utama karena kemampuan nge-rap-nya! And, last but not least, the gorgeus, attractive, smart, funny, sexy, bad-ass, and unforgettable Alaska Young. Interaksi yang terjadi di antara mereka terasa begitu nyata, membuat saya jadi pengin berteman dan ikut melakukan hal-hal seru bersama mereka!

John Green juga masih berhasil mengaduk-aduk emosi saya, dari senyam-senyum sampe mewek, dengan gayanya bercerita yang asyik, seru, dan begitu mengalir--sampai saya nggak sadar bahwa sudah membaca sekian halaman. Oh ya, buku ini juga memiliki banyak kata-kata keren yang relatable banget dengan kehidupan. Hebatnya, John Green lantas nggak terkesan menggurui. Saya bahkan memberi highlight pada beberapa bagian yang saya suka.

Menurut saya, "Looking for Alaska" merupakan buku yang ketika selesai dibaca, dapat menimbulkan senyum penuh haru - dan sedikit mewek - pada pembacanya. Ehm, well, at least that happened to me. Namun, di sisi lain, saya pribadi juga merasa lega dengan ending yang ditulis oleh John Green walaupun sejujurnya saya nggak merasa begitu penasaran dengan ending-nya. Saya bahkan sengaja membaca buku ini pelan-pelan karena nggak mau ceritanya berakhir dengan cepat. Dan ketika, mau nggak mau, saya sampai pada halaman terakhir, saya langsung merasa kayak kehilangan seorang teman. :( *sobs*

So, John Green, thank you so much for writing this book. Like what the "after" part said on your paperback synopsis; nothing is ever the same. And, yes, Mr. Green, my life will never be the same after I read your book. But, still, thank you. New books, please? :')

Review: Kukila - M. Aan Mansyur

Judul: Kukila
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 3,5/5
Paperback Synopsis:
Nak, dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada.Batang pohon mangga tetap selutut persis prasasti batu. Ia berdiri mengekalkan dosa-dosa—dan dosa adalah pemimpin yang baik bagi penyesalan-penyesalan.

Kukila adalah perempuan itu, yang membenci September dan pohon mangga. Hidupnya didera rasa bersalah yang besar, kepada mantan suaminya, mantan kekasihnya, dan anak-anaknya. Kepada suratlah dia berbicara dan kepada pohon-pohonlah dia menyembunyikan masa lalu, karena rahasia, konon, akan hidup aman dalam batang-batang pohon.

Selain “Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)”, di dalam buku ini ada dua belas cerita pendek lain, dikisahkan dalam kata-kata Aan Mansyur yang manis, bersahaja, kadang sedikit menggoda.

.....

M. Aan Mansyur menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang membuat timeline Twitter saya terlihat lebih indah dan menarik dengan kata-kata yang ditulisnya melalui akun @hurufkecil. Maka ketika saya tahu bahwa Aan menulis buku kumpulan cerpen berjudul "Kukila", saya cukup excited. Judul yang cantik, begitu pikir saya saat itu. Dan kini, setelah saya selesai membaca buku ini, ternyata nggak hanya judul - dan cover-nya - saja yang cantik, tapi juga isinya! Bedanya, jenis cantik dalam tulisan di buku ini merupakan cantik yang agak nakal. Genit. Dan... ya, sedikit menggoda.

Kata-kata yang digunakan oleh Aan terasa hidup. Gaya bahasanya cenderung formal dan puitis, namun nggak membuat saya kesusahan untuk memahami setiap ceritanya kok. Malahan, saya justru menikmatinya karena setiap cerita terasa begitu mengalir meskipun memang ada satu atau dua cerpen yang kurang berkesan bagi saya. Tapi saya harus kasih applause atas kemampuan Aan dalam menciptakan twist di beberapa cerpen yang sempat bikin saya bengong sesaat ketika selesai membacanya, seperti dalam cerpen berjudul "Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi" yang menjadi salah satu favorit saya selain "Membunuh Mini", "Aku Selalu Bangun Lebih Pagi", dan "Lima Pertanyaan Perihal Bakso". Oh ya, ada juga cerpen yang sebelumnya sudah pernah muncul di buku kumpulan cerpen "Perempuan yang Melukis Wajah", yaitu "Hujan. Deras Sekali.".

Sedangkan judul buku sendiri diambil dari cerpen dengan judul yang sama; "Kukila". Sebuah cerita yang tidak pendek, sebenarnya. Dan entah kenapa cerita ini kurang nancep di hati saya, padahal harus saya akui bahwa permainan alurnya keren, bikin saya harus benar-benar konsentrasi ketika membacanya agar paham dengan cerita yang disampaikan. Nah, saya termasuk orang yang kurang suka menaruh konsentrasi terlalu dalam ketika membaca karena takut cepat bosan. Hebatnya, saya nggak mengalami tuh yang namanya bosan selama membaca "Kukila" - maupun cerpen-cerpen lainnya. But, still, cerpen "Kukila" kurang membekas buat saya. Maaf ya, Aan...

Pada akhirnya, menurut saya, "Kukila" merupakan sebuah buku yang well-written. Cocok banget dibaca di sore hari menjelang senja, di beranda rumah. Good job, Aan! Saya request novel untuk buku yang ditulis selanjutnya, ya! ;)

Thursday, November 22, 2012

Review: Berjuta Rasanya - Tere Liye

Judul: Berjuta Rasanya
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Mahaka
Tebal: 205 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 3/5
Paperback Synopsis:
Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan. 

Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu mares keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan. 
Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa dia akan sempat membacanya.

Semoga datanglah pemahaman baik itu. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita, tidak peduli sesederhana apapun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik."

Selamat membaca cerita-cerita Berjuta Rasanya.

.....

This is my very first time reading Tere Liye's book! Sebetulnya saya udah sering mendengar namanya malang melintang di dunia tulis-menulis. Setiap saya ke toko buku, saya selalu melihat minimal salah satu karyanya dipajang di rak di sana. Mulai dari "Hafalah Shalat Delisa", "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin", "Negeri Para Bedebah", "Rembulan Tenggelam di Wajahmu", dan lainnya. Tapi, nggak tau kenapa, saat itu saya nggak merasa tertarik untuk membeli dan membacanya. Saya selalu mengembalikan buku-buku itu ke rak-nya lagi setelah membaca sinopsisnya. I don't know... it felt like there was something that held me back.

....Until I found this book.

Sesaat setelah saya baca sinopsis yang tertera di belakang buku kumpulan cerpen ini, sejujurnya saya sempat terdiam di tempat dan sedetik kemudian, saya jejeritan sendiri dalam hati karena menurut saya, kata-kata di sinopsis tersebut ngena banget! *curcol detected* Jadilah saya tanpa ragu langsung membawanya ke kasir dan menukarnya dengan sejumlah uang. But shame on me, saya sempat mendiamkan buku ini selama kurang-lebih seminggu setelah membaca beberapa halaman awal saja. Selain karena tugas kuliah yang datang melulu (I know that is such a lame excuse!), saya mendadak merasa bosan untuk membaca.

Namun bukan berarti cerpen-cerpen dalam buku ini nggak bagus. Pas saya lagi berhenti membaca, salah satu teman saya cerita kalau semua karya Tere Liye yang sudah pernah dia baca, selalu menyentuh hatinya. Tapi dia bilang kalau dia memang belum membaca yang "Berjuta Rasanya" ini. Jadilah saya tertarik untuk membaca buku ini lagi, dari halaman pertama. Dan kali ini, saya harus bilang bahwa saya menikmatinya! Hehehe maaf ya, Tere Liye...

Buku ini terdiri dari lima belas cerpen yang bertema cinta. Memang ada beberapa cerpen yang membuat saya menaikkan alis dan berpikir, "Kok gini, sih?". Tapi nggak sedikit juga yang bikin saya senyum-senyum sendiri karena ceritanya relatable banget dengan kehidupan cinta yang biasa kita lihat - dan rasakan - sehari-hari. Contohnya dalam cerpen "Hiks, Kupikir Kau Naksir Aku", bercerita tentang seorang cewek bernama Tina yang kegeeran dengan teman cowoknya. Ada lagi "Kutukan Kecantikan Miss X", menceritakan tentang laki-laki yang tidak berani berkenalan dengan perempuan yang disukainya. Atau pada cerpen "Antara Kau dan Aku" yang bercerita tentang laki-laki dan perempuan dengan perasaan saling suka namun keduanya tidak berani untuk mengungkapkan.

Tidak semua cerpen di buku ini memiliki akhir yang bahagia. Ada juga cerpen "Kupu-Kupu Monarch" yang konsep ceritanya melibatkan unsur legenda, bercerita tentang pengorbanan seorang istri terhadap suaminya. Beberapa cerpen bahkan memiliki twist yang cukup asyik untuk dibaca, seperti dalam cerpen "Lily dan Tiga Pria Itu" atau "Harga Sebuah Pertemuan". Judul cerpen yang terakhir saya tulis bahkan mengandung unsur thriller juga.

Maka nggak heran kalau buku kumpulan cerpen ini diberi judul "Berjuta Rasanya" karena, pada nyatanya, secara pribadi saya merasakan emosi saya berubah-ubah ketika membacanya; ya seneng, senyum-senyum sendiri, merinding, senyum lagi, lalu sedih. Buku ini membuat saya ingin mencoba untuk membaca buku-buku karya Tere Liye yang lain. Any suggestions? ;)

Saturday, September 15, 2012

Review: The Not So Amazing Life of @aMrazing - Alexander Thian

Judul: The Not So Amazing Life of @aMrazing
Penulis: Alexander Thian
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 228 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 4/5
Paperback Synopsis:
Bapak itu merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan bergepok-gepok uang. 

"Nih! Sekian belas juta!" 

Bahkan setelah menghitung sekian belas juta, sisa uang di tangan Bapak itu masih banyak. Fakta bahwa bajunya lusuh, serta handphone lamanya buluk segera terlupakan. Rupanya Bapak ini orang tajir yang tak tahu cara berdandan serta belum melek teknologi. Gue lagi-lagi salah menilai. Terkadang manusia memang hanya memandang penampilan luar. Menghakimi bahwa sebuah buku pasti jelek isinya hanya karena cover yang buruk. 

Berlama-lama si Bapak mengagumi handphone terbarunya. Setelah puas, ia kembali bertanya hal yang paling penting.

"Dek, gimana cara main Fesbuk? Terus, internet itu apa, sih?"

.....

'The Not So Amazing Life of @aMrazing' (TNSALOA) merupakan buku solo perdana Alexander Thian, berisi tentang kumpulan kisahnya saat masih bekerja menjadi seorang penjaga konter handphone di sebuah mal di bilangan Jakarta Selatan. Lah, apa hubungannya @aMrazing sama Alexander Thian? Bagi yang doyan main Twitter, kemungkinan besar pasti tau, deh, kalau @aMrazing merupakan nama akun Twitter milik Alex. Saya sendiri udah follow Alex sejak kurang-lebih dua tahun lalu dan belum pernah sekali pun terbersit keinginan untuk pencet tombol unfollow. Saya bahkan sering scrolling timeline Twitter Alex sebelum tidur, saking seru dan banyak banget hal yang bisa saya temuin di sana. :p

Sebenarnya nama Alex sudah pernah muncul di buku The Journeys dan Cerita Sahabat sebagai salah satu penulisnya. Dan saya suka dengan gaya menulisnya yang ringan, ceplas-ceplos, dan begitu menyenangkan. Makanya, ketika suatu hari Alex nge-twit bahwa dia mau merilis buku perdananya, saya cukup excited. Dan kini, setelah saya selesai membaca TNSALOA, saya harus bilang bahwa judul yang dipilih kurang pas, karena menurut saya hidupnya Alex - dan buku ini - tuh amazing banget!

Gaya Alex bercerita tentang pengalaman-pengalamannya selama menjadi penjaga konter handphone bikin saya hanyut dalam kisahnya; dari mulai ikutan sebel, ketawa-ketawa, sampai ngerasa terharu. Tapi, yang paling saya suka adalah bagaimana kisah-kisah Alex bisa "menyentil" dan menyadarkan saya tentang hal-hal penting yang sering luput dari perhatian. Hebatnya, tulisan Alex lantas nggak terkesan menggurui. Selama membaca TNSALOA, saya malah ngerasa kayak lagi dengerin temen yang curhat. Salah satu kisah yang cukup membekas bagi saya adalah 'Don't Judge the Heart by the Look', bercerita tentang bagaimana salah satu pelanggan di konter handphone Alex membuatnya sadar bahwa ada mata lain yang harus dilibatkan dalam melihat segala hal, yakni mata hati.

Sayangnya, menurut saya halamannya kurang tebel, nih. Ceritanya kurang banyak, padahal Alex berhasil membuat buku yang ringan, menghibur, namun sarat makna. Good job, Alex! Saya nunggu buku-buku selanjutnya, ya! ;)

Monday, September 10, 2012

Review: Taste Buds - Yunus Kuntawi Aji & Kinsia Eyusa Merry

Judul: Taste Buds
Penulis: Yunus Kuntawi Aji & Kinsia Eyusa Merry
Penerbit: PT WahyuMedia
Tebal: 170 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 3,5/5
Paperback Synopsis:
―HEADLINE―
Radityo, wartawan tercepat dalam melaporkan kasus pembunuhan. Rekor tercepatnya adalah sepuluh detik. Tepat setelah sang pembunuh melibas leher korban, ia berada di sana. Saat itu, ia melihat pembunuhnya lari sambil membawa harta benda korban.

Motif standar pembunuhan adalan masalah ekonomi. Tugasnya sebagai wartawan adalah meliput kasus pembunuhan. Ia justru berharap korban segera mati meskipun meronta-ronta meminta diselamatkan olehnya.

―JENUH―
"Oh tidak, tidak. Manda, kayaknya kita mulai garing deh pake bahasa kayak gini, hahaha. Ehem, oke.

Keinginan saya adalah sekiranya Anda tidak keberatan, apakah Anda bersedia bangun pagi melihat saya lagi? Makan pagi bersama saya lagi. Pulang kantor yang nongol muka saya lagi. Shalat berjamaah imamnya saya lagi. Menerima kado ulang tahun dari saya lagi. Mengurus anak bersama saya lagi. Memasak bersama chef andal, yaitu saya lagi. Sampai tua, duduk di kursi goyang, ditemani saya lagi. Saya lagi dan saya lagi."
.....

'Taste Buds' merupakan sebuah buku 26 kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Yunus Kuntawi Aji dan Kinsi Eyusa Merry. Bagi yang sering dan doyan berkelana di dunia Tumblr, kemungkinan besar pasti udah nggak asing lagi dengan mereka berdua yang, menurut saya, bisa dibilang sebagai seleb Tumblr Indonesia. :p Dari sekian banyak orang yang follow Tumblr mereka, bisa dibilang saya ini merupakan silent reader, alias nggak pernah mengirim message atau ikutan ngasih komentar di postingan mereka. Sejujurnya saya bahkan follow akun Tumblr mereka baru-baru ini meskipun sebelumnya sudah cukup sering mampir di akun mereka. *ketahuan kepo-nya* Hehehe.

Sebelumnya saya sudah pernah baca tulisan Kinsy dalam beberapa cerita pendeknya, dan saya suka dengan gaya menulisnya yang ringan dan kasual. Sebaliknya, walaupun belum pernah baca tulisan Yunus, tapi dari caranya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke Tumblr-nya, gaya menulisnya terkesan lebih kaku, formal, dan puitis. Makanya, saya cukup penasaran dan excited ketika tau bahwa mereka berkolaborasi untuk membuat buku.

Dan ternyata apa yang ditulis di cover ini bener, lho, bahwa 'Taste Buds' merupakan suatu buku 'kumpulan cerita pengaduk rasa'. Buku ini diawali dengan cerpen berjudul 'Headline" yang ditulis oleh Yunus, dilanjutkan oleh tulisan Kinsy berjudul 'Oalaaah, Anak Ini...', lalu tulisan Yunus lagi, dan terus bergantian seperti itu hingga cerpen terakhir Kinsy yang berjudul 'Raca' menjadi penutup buku ini. Nah, hal tersebut lah yang membuat saya ngerasa kayak lagi naik mobil di jalan yang nggak rata. Semacam terombang-ambing - but in a good way! Setelah serius membaca cerpen-cerpen Yunus yang terkesan lebih berat (sering muncul twist!), dark, dan bahkan ada pula yang ber-genre thriller, saya seolah diajak meng-cooling down-kan diri dengan cerpen-cerpen Kinsy yang lebih simpel dan sering bikin senyum-senyum sendiri saking sweet-nya.

Saya juga suka dengan pesan-pesan tersirat yang muncul dalam cerpen-cerpen di buku ini, tentang hal-hal kecil di sekitar kita yang mungkin luput dari perhatian dan patut untuk direnungkan, seperti dalam cerpen Yunus berjudul 'Semoga Ini Bukanlah Tulisan yang Tergesa-Gesa'. Cerpen yang menjadi salah satu cerita favorit saya tersebut seolah ingin menyadarkan bahwa, tanpa sadar, sebenarnya kita hidup di dunia yang serba tergesa-gesa. Maunya, kalau bisa, yang instan aja.

Atau bisa juga dalam salah satu cerpen Kinsy favorit saya berjudul 'Bangga', menceritakan tentang bagaimana rasa sayang seorang anak terhadap sang ayah. Selain dua judul tersebut, beberapa cerpen yang menjadi favorit saya adalah 'Headline', 'Jenuh', 'Pasangan yang Sempura', 'Percayalah, Cerita Ini Pun Sebuah Karya Fiksi!', 'Bertanya', 'One Letter of Dull', 'Pagar', 'Siapa yang Gila?', ' Dabria Clarina', dan 'Raca'.

Well, menurut saya, buku ini cukup unik karena dua gaya penulisan yang sama sekali berbeda. Kalau misalkan buku ini hanya ditulis oleh Yunus atau Kinsy aja, saya nggak yakin efek membacanya bakal sama. But, still, 'Taste Buds' is very worth to read, terutama bagi yang ingin mendapatkan pengalaman baru dalam membaca. Oh ya, yang mau baca berbagai tulisan mereka yang lain, bisa ke akun Tumblr-nya Kinsy atau punya Yunus. Happy reading!

Friday, September 7, 2012

Review: After School Club - Orizuka

Judul: After School Club
Penulis: Orizuka
Penerbit: Bentang Belia
Tebal: 240 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 4/5
Book Synopsis:
Aneh, Ajaib, Norak. Tiga kata itu pas untuk menggambarkan penghuni kelas After School. Kelas ini juga dianggap sebagai kelas anak-anak “bodoh” oleh seluruh warga sekolah. Gara-gara nilai Fisikanya jeblok dua kali berturut-turut, Putra harus masuk kelas itu. Ini jadi aib yang serius bagi Putra yang terkenal cool dan populer. Apalagi kalau ayahnya yang angker dan penuntut sampai tahu, bagaimana dia menjelaskannya?

Tiap hari Putra harus tahan banting menghadapi keusilan anak-anak After School. Ditambah lagi, Cleo, ketua genk After School diam-diam menyukainya. Keusilan anak-anak After School meningkat dua kali lipat demi membantu Cleo PDKT.

Bencana bagi Putra seakan jadi bertumpuk-tumpuk. Musibah apa lagi setelah ini?

.....

After School Club adalah kelas tambahan yang diadakan setelah jam sekolah usai bagi para murid kelas X dengan nilai kurang. Kelas tersebut dikenal oleh sebagian besar warga sekolah sebagai tempatnya orang-orang bodoh - atau, mereka bilang, dodol. Putra, seorang cowok yang dikenal cool dan populer, terpaksa harus masuk ke kelas After School karena nilai sekolahnya menurun. Pada awalnya, Putra merasa sangat enggan untuk masuk ke kelas tersebut karena menurutnya hal itu sangat memalukan, terlebih ketika ia mengetahui bahwa anak-anak After School ternyata begitu aneh dan usil setengah mati. Belum lagi kalau ayahnya yang otoriter tahu, bagaimana ia harus menjelaskannya? Namun, seiring berjalannya waktu dan banyaknya hal-hal yang Putra lakukan bersama anak-anak kelas After School, pikirannya mulai berubah dan ia jadi betah. Putra tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang dirasa membosankan akan menjadi lebih berwarna karena kelas After School tersebut.

Hanya melihat dari judul dan cover-nya aja, saya tau bahwa "After School Club" merupakan novel teenlit, jadi saya nggak menaruh ekspektasi apa-apa. Dan hasilnya... nggak mengecewakan! Awalnya, saya mikir kalau orang seumuran saya udah nggak pantes baca teenlit. Kalau baca, pun, saya pasti bakal ngasih berbagai komentar sinis tentang betapa labilnya para ABG ini *sok tua*. Tapi... ternyata saya menikmati banget, lho, bacanya! Dan nggak ada satu komentar sinis pun yang keluar dari mulut saya. Malahan, saya jadi sering senyum - bahkan ketawa - ketika membaca berbagai perilaku khas anak SMA yang lucu, seru, nyebelin, dan... bikin kangen.

Sesuai dengan kebanyakan tema yang diangkat oleh novel teenlit, "After School Club" pun mengangkat tema serupa, yakni berkisar antara persahabatan, sekolah, keluarga, dan dibumbui dengan percintaan khas anak SMA. Adegan-adegan yang disuguhkan nggak terkesan dilebih-lebihkan; saling mengolok, ngejodohin temen, ngerjain guru, dan lain-lain. Dialognya juga mengalir lancar. Namun, hal yang lumayan mengganggu di pikiran saya, yaitu tentang Cleo yang menyukai Putra. Walaupun ditulis di sinopsis bahwa Cleo diam-diam menyukai Putra dan cewek itu diceritakan suka menggoda dan mengusili Putra, tapi saya nggak bisa lihat di mana tanda-tanda rasa suka Cleo terhadap Putra. Mungkin adegannya bisa ditambah  dengan Cleo yang deg-degan setiap kali melihat cowok itu atau Cleo yang memikirkannya setiap malam atau... yah, apapun lah.

Sedangkan, mengenai karakter, saya cukup puas. Kalau dipikir-pikir lagi, saya memang selalu puas terhadap karakter-karakter lovable yang diciptakan Orizuka di buku-bukunya; mulai dari Ares di 'Summer Breeze'; the fantastic four Sid, Rama, Lando, dan Cokie di 'High School Paradise', Nino di 'Our Story', sampai Juna di 'With You'. Karakter Putra sendiri menurut saya kayak campuran dari nggak pekanya Sid, sweet-nya Rama, dan juteknya Lando. Sedangkan Cleo mengingatkan saya dengan Julia di HSP, rame dan usil banget soalnya! Yang juga cukup menarik perhatian adalah karakter Mario dan Ruby, duo maut di Kelas After School yang tingkahnya selalu bikin ketawa saking bodoh dan lucunya.

Menurut saya, Orizuka kembali berhasil membuat novel teenlit yang santai, nggak rumit, dan nggak menye-menye. Nggak perlu berpikir keras untuk menikmati buku ini, just let the story flows. Oh ya, saya juga suka dengan pembatas bukunya yang kecil nan lucu. Good job, Orizuka! Saya nungguin karya-karya selanjutnya, ya! ;)

Monday, August 27, 2012

Words of the Day

"...What really knocks me out is a book that, when you're all done reading it, you wish the author that wrote it was a terrific friend of yours and you could call him up on the phone whenever you felt like it."  
-Holden Caulfield (The Catcher in the Rye by J. D. Salinger) 

Saturday, August 25, 2012

Review: Paper Towns - John Green

Judul: Paper Towns
Penulis: John Green
Penerbit: Speak
Tebal: 305 halaman
Tahun Terbit: 2009
Rating: 5/5
Paperback Synopsis:
Quentin Jacobsen has spent a lifetime loving the magnificently adventurous Margo Roth Spiegelman from afar. So when she cracks open a window and climbs back into his life--dressed like a ninja and summoning him for an ingenious campaign of revenge--he follows.

After their all-nighter ends and a new day breaks, Q arrives at school to discover that Margo, always an enigma, has now become a mystery. But Q soon learns that there are clues--and they're for him. Urged down a disconnected path, the closer he gets, the less Q sees of the girl he thought he knew.

.....

Sebetulnya, sebelum lebaran tiba, saya sudah selesai membaca 'Paper Towns'. Namun, karena masih harus mempersiapkan keperluan lebaran, bekal mudik, dan lain-lain, makanya baru bisa nulis review-nya sekarang. Hehehe. Jadiii, mohon maaf lahir dan batin, ya! Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H bagi yang merayakan! *telat* :p

'Paper Towns' berkisah tentang seorang laki-laki remaja bernama Quentin Jakobsen yang jatuh cinta pada Margo Roth Spiegelman, tetangganya, sejak mereka masih kecil. Seiring dengan berjalannya waktu, dengan Margo yang cukup populer dan semua sifat geek yang dimiliki Q, hubungan mereka berdua menjadi semakin menjauh. Pada suatu malam, Margo secara tiba-tiba menyelinap menemui Q melalui jendela kamar cowok itu. Ia meminta bantuan pada Q untuk meminjamkannya mobil - dan menemaninya - berkeliling kota demi menunaikan misi balas dendam pada beberapa orang yang telah menyakiti hatinya. Q tentu saja tidak dapat menolak permintaan Margo tersebut. Seluruh hal menakjubkan yang terjadi pada malam itu membuat Q jadi merasa lebih memahami Margo. Anehnya, pada keesokan paginya, Margo malah menghilang. Dengan dibantu oleh tiga orang teman dekatnya, Q berusaha memecahkan berbagai klu yang, ia yakini, sengaja dibuat oleh Margo khusus untuknya karena cewek itu ingin Q menemukan dirinya. Namun, semakin jauh Q melangkah, semakin ia sadar bahwa Margo begitu berbeda dengan yang diketahuinya dan dipikirkannya selama ini. Bahwa selama ini, Q hanya melihat Margo sesuai dengan apa yang dirinya sendiri proyeksikan tentang cewek itu.

Sejujurnya, setelah membaca 'The Fault in Our Stars' yang bagi saya juara banget itu, saya nggak menaruh eskpektasi yang terlalu tinggi terhadap 'Paper Towns'. Saya ngerasa sedikit khawatir juga: gimana kalau ceritanya membosankan? Gimana kalau saya berhenti membaca di tengah jalan? - and there were still many 'how if' that crossed my mind at that time. Tapi, begitu saya buka bukunya, saya malah nggak sadar sudah membaca sekian halaman dan saya menikmati itu! Banget! 'Paper Towns' memang bukan 'The Fault in Our Stars' yang cukup mengharukan, sebaliknya, 'Paper Towns' malah cukup sering bikin saya tegang. Lagi-lagi gaya bercerita John Green bikin saya ikut larut dalam usaha menemukan Margo di buku ini. Saya suka bagaimana John Green konsisten merajut kata-kata yang begitu youngish, funny, tapi juga masih banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil.

Dan saya harus memberikan applause pada John Green atas karakter-karakternya dalam 'Paper Towns' ini. Saya jatuh cintaaaa! Memang nggak semuanya lovable, sih, ada juga yang bikin sebel dan gregetan, tapi mereka terasa pas banget aja gitu. Like, each character really fits the story very well. Dalam buku ini, Margo adalah satu-satunya karakter yang saya suka tapi juga saya benci. Saya suka bagaimana dia digambarkan begitu vulnerable di balik eksteriornya yang ceria, ceplas-ceplos, dan restless. Tapi saya terkadang juga sebel dengan keegoisannya yang kayaknya nggak tau waktu banget itu, pake kabur-kaburan segala tanpa pikir panjang dulu. But if Margo didn't disappear, then where would the story come from?

Karakter favorit saya udah jelas banget deh: Quentin. Saya suka sifat geek-nya dan *spoiler!* bagaimana dia rela tidak menghadiri wisuda kelulusan SMA-nya demi menemukan Margo. Salah satu sahabat Q yang bernama Ben juga terkadang mencuri spotlight sang tokoh utama. Tiap kata yang keluar dari mulutnya hampir selalu bikin ketawa. Keanehan dan kelucuannya lah yang sering mencairkan suasana dalam berbagai adegan yang cukup serius dan menegangkan. Lalu, Radar, sahabat Q yang lain, memiliki karakter yang bertolak belakang dengan Ben, seolah saling melengkapi. Radar merupakan orang yang cukup serius, internet genius, namun tidak "selurus" Q yang kurang doyan menghadiri berbagai macam pesta atau acara yang ramai. Untuk hal tersebut, Radar kompak dengan Ben. Namun, kedua lelaki tersebut begitu kompak membantu Q untuk mencari Margo. Persahabatan mereka memang nggak mengandung hal-hal semacam bromance gitu, sih, tapi saya suka dengan interaksi antar mereka bertiga. Terasa real.

Meski saya cukup sebel dengan beberapa karakter dalam 'Paper Towns', namun saya harus ngaku bahwa setelah selesai membaca buku ini, I found myself cope hardly with reality. I couldn't even start reading a new book for the next few days. I was like, "What will happen with Q and Margo next?" 'Paper Towns' juga mengingatkan saya bahwa kita (seharusnya) nggak boleh merasa kecewa apabila orang-orang yang ada di sekitar kita, bahkan yang dekat dengan kita dan sudah kita kenal lama, tiba-tiba berubah. Karena bisa saja hasil dari perubahan tersebut merupakan "wajah asli" mereka dan kita terlalu terpaku dengan proyeksi pikiran kita tentang mereka, sehingga kita merasa kecewa karena mereka menjadi berbeda dengan apa yang kita pikirkan.

Wednesday, August 15, 2012

Review: The Fault in Our Stars - John Green

Judul: The Fault in Our Stars
Penulis: John Green
Penerbit: Dutton Books
Tebal: 318 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 5/5
Book Synopsis:
Despite the tumor-shrinking medical miracle that has bought her a few years, Hazel has never been anything but terminal, her final chapter inscribed upon diagnosis. But when a gorgeous plot twist named Augustus Waters suddenly appears at Cancer Kid Support Group, Hazel s story is about to be completely rewritten.

.....

I don't know what to write, actually. "The Fault in Our Stars" is my very first John Green's. Dan sebenarnya ceritanya standar, tentang anak perempuan berumur 16 tahun yang mengidap thyroid cancer stadium empat bernama Hazel Grace Lancaster. Ia begitu sadar bahwa dirinya bisa "pergi" kapan saja, dan ia sudah siap akan hal tersebut. Saat menghadiri Support Group, Hazel bertemu dengan Augustus Waters, seorang anak laki-laki berumur 17 tahun yang sedang dalam masa pemulihan dari penyakit osteosarcoma-nya. Sejak saat itu, baik hidup Hazel maupun Augustus pun tak lagi sama.

Kalau baca ringkasan ceritanya aja, mungkin novel ini terkesan melankolis dan cengeng banget. Well, kalau melankolis, mungkin iya. Tapi... cengeng? I don't think so. Cara John Green merajut kata demi kata terasa enak banget untuk dibaca. Asyik. Nggak membosankan. Dan... nggak cengeng. Sejujurnya memang "The Fault in Our Stars" ini bikin saya sempat nangis walaupun nggak sampai tersedu-sedu. Cuma sebatas berkaca-kaca. But, still, nggak cengeng. Di satu sisi, novel ini memang heartbreaking banget deh, apalagi ketika - spoiler! - mulai masuk bagian-bagian terakhir. Namun, di sisi lain, membaca kisah Hazel dan Augustus ini terasa heartwarming sekali. Bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama, saling menguatkan, berdiskusi tentang hidup dan kehilangan, pujian-pujian serta humor-humor yang saling mereka lontarkan, dan lain-lain. Nggak kehitung deh berapa kali saya mendesah penuh keharuan *lebay* sambil memegangi dada ketika membaca novel ini. :')

Saya juga sukaaaa sama karakter-karakter di novel ini. Terasa nyata. Hazel yang realistis, Augustus yang ceria, dan bagaimana kedua orangtua mereka begitu protektif dan cemas terhadap mereka... digambarkan dengan cukup baik oleh John Green. I love how they interact to each other! Rasanya kayak lagi dengerin mereka bercakap-cakap aja gitu. Dan dari percakapan-percakapan tersebut, saya pribadi jadi menemukan banyak quotes keren yang benar-benar relatable banget sama kehidupan ini! 

Well, mungkin saya menilai novel ini terlalu berlebihan. Tapi, bukannya pada akhirnya semua balik lagi ke selera masing-masing? Hehehe. Yang jelas, satu pesan yang nancep banget di pikiran saya, yang sekaligus merupakan salah satu quotes favorit saya dalam novel ini adalah bahwa, "The world is not a wish-granting factory."

Menurut saya, inti kekuatan dari "The Fault in Our Stars" ada pada kelebihan John Green dalam meracik kata-kata. Dan hal tersebut lah yang membuat saya ingin membaca karya-karyanya yang lain. I already bought his "Paper Towns" and I'll read it as soon as I can. I will.

Thursday, August 9, 2012

Review: With You - Christian Simamora & Orizuka

Judul: With You
Penulis: Christian Simamora & Orizuka
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 316 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 3,5/5
Paperback Synopsis:
365 hari dalam setahun,
24 jam dalam sehari.

di antara semua waktu yang kita punya,
kau sengaja memilih hari itu.

keluar dari mimpi indah,
lalu hadir dalam hidupku...

sebagai cinta yang selama ini aku tunggu.

.....

This is my first time reading Gagas Duet novel! Awalnya saya kira dalam novel ini, Christian Simamora dan Orizuka menuliskan cerita yang sama. Mungkin nulisnya gantian, entahlah. Makanya, saya pilih 'With You' sebagai novel Gagas Duet yang saya baca untuk pertama kali karena penasaran dengan karya kolaborasi tulisan dari Christian Simamora dan Orizuka, which is yang satu begitu blak-blakan, satunya lagi cenderung lebih kalem. Ternyataaa, novel ini terdiri dari dua cerita berbeda, nggak berkelanjutan. Tetapi, tema yang digunakan sama dan ada hubungan antara tokoh utama di kedua cerita tersebut.

'With You' diawali dengan kisah berjudul 'Cinderella Rockefella' yang ditulis oleh Christian Simamora. Cinderella Tan, atau yang biasa dipanggil Cindy, adalah seorang model papan atas Indonesia. Suatu hari, usai menjalani sebuah pemotretan, seorang cowok bernama Jere, yang merupakan seorang model juga, menghampirinya dan mengajaknya untuk dinner bersama. Meski awalnya bersikap jutek dan ketus, namun akhirnya ia mengiyakan ajakan Jere tersebut. Dan Cindy nggak menyesali keputusannya itu. Selama dinner berlangsung, pesona Jere yang begitu kuat berhasil membuat Cindy kagum dan luluh. Ia pun sadar bahwa hatinya telah jatuh pada cowok itu.

Sedangkan kisah kedua yang ditulis oleh Orizuka berjudul 'Sunrise', menceritakan tentang seorang gadis bernama Lyla yang secara tidak sengaja bertemu sang mantan padahal ia sedang dalam misi moving on. Bagi sepupu Cindy tersebut, melupakan segala kenangan yang terjadi selama empat tahun dengan Juna, mantan pacarnya, bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika alasan Juna memutuskannya adalah hanya karena mereka sudah terlalu lama bersama. Lyla pun akhirnya memutuskan untuk berangkat sendiri ke Karimun Jawa, demi usahanya membebaskan diri dari sosok dan kenangan akan Juna. Maka, pertemuannya dengan Juna di pulau itu membuat pertahanan Lyla goyah; bagaimana dirinya bisa melupakan Juna apabila cowok itu berada begitu dekat dengannya?

Sejujurnya saya menaruh harapan yang lumayan tinggi untuk buku ini, mengingat nama kedua penulis yang sudah cukup sering malang-melintang di dunia tulis-menulis. Dan, saya harus mengakui bahwa saya cukup puas dan menikmati pengalaman baru saya dalam membaca novel Gagas Duet 'With You' ini. Dua cerita berbeda, dua penulis, namun dengan tema yang sama dan masih saling berhubungan. Dalam novel ini, tema yang diangkat sudah tertera jelas di sampul depan: 'With You: Sehari Bersamamu', tentang bagaimana cinta terjadi hanya dalam satu hari. Dan menurut saya kedua cerita dalam buku ini sudah pas sekali dengan tema yang dipilih: Cindy yang menemukan prince charming-nya dalam satu hari saja dan bagaimana banyaknya hal yang terjadi dalam sehari membuat tekad Lyla untuk melupakan sang mantan menjadi goyah.

Yang hebat adalah penggambaran para karakter yang cukup kuat dalam buku ini, baik di 'Cinderella Rockefella' maupun 'Sunrise', meskipun kisah keduanya cukup singkat. But, since this book is contained of two different stories, written by two authors, then I can't help myself but compare them. Dan saya, personally, lebih menyukai 'Sunrise'. Menurut saya, kisah yang ditulis oleh Orizuka tersebut berhasil membuat perasaan saya terhanyut dan lebih sering membuat saya senyum-senyum sendiri. Bukannya saya terus jadi nggak suka sama 'Cinderella Rockefella' yang ditulis Christian Simamora. Tentu aja enggak. Kisahnya memang lebih fun dan blak-blakan, hanya aja, menurut saya karakter Cindy itu terlalu bitchy. Dan entah kenapa saya selalu kurang bisa menaruh simpati terhadap karakter semacam itu. Hehehe.

Cuma masalah selera aja sih ya menurut saya. Bagi yang belum pernah baca novel Gagas Duet terbitan GagasMedia, 'With You' karya Christian Simamora dan Orizuka pas banget untuk dijadikan pilihan pertama. Saya jadi ketagihan mau baca novel-novel Gagas Duet yang lain. Ihiy!

Saturday, August 4, 2012

Review: 23 Episentrum - Adenita

Judul: 23 Episentrum
Penulis: Adenita
Penerbit: Grasindo
Tebal: Novel (278) & Suplemen (206)
Tahun Terbit: 2012
Rating: 3/5
Paperback Synopsis:
"Seseorang yang merasa sudah melakukan pencapaian dalam hidupnya, biasanya akan terus bersemangat untuk melakukan pencapaian lainnya. Tularkan energimu... energi besar yang kamu miliki. Hidupkan impian orang lain, bangunkan dari mati suri... Jangan biarkan dia mati!"

23 Episentrum adalah buku 2 in 1. Berisi novel yang bercerita perjalanan 3 orang anak muda untuk mengejar profesi yang dicintainya. Perjalanan Matari, Awan, dan Prama dalam mengejar ambisi dan eksistensi. Mengungkap makna hidup dan menemukan kebahagiaan hingga akhirnya menemukan "23 Episentrum" dalam perjalanannya. Perjalanan mata, hari, dan Hati.

Dan sebuah buku suplemen yang berisi tentang cerita 23 orang anak muda yang memilih melakukan pekerjaannya sesuai dengan apa yang mereka cintai. 23 orang membagi kisahnya. Kisah kecintaan atas apa yang mereka lakukan. Karena mereka percaya, sesuatu yang dilakukan dengan hati akan selalu menghasilkan energi yang tak pernah mati.
.....

First thing first, saya mau buat pengakuan dulu: salah satu alasan saya beli '23 Episentrum' adalah karena tertarik dengan judul dan cover-nya yang eye-catching. Selain itu, saat beli buku ini, I had no idea who Adenita was. Pada awalnya, saya ngerasa familiar, kayak pernah denger. Tapi, karena nggak berhasil mengingat, saya jadi berkesimpulan bahwa Adenita pasti seorang penulis baru. Shame on me, karena begitu saya buka bukunya, saya akhirnya ngeh kalau dia adalah penulis dari '9 Matahari', pemenang Khatulistiwa Literary Award nominasi Penulis Muda Berbakat tahun 2009. Dan saya belum pernah baca buku tersebut. Maaf ya, Adenita...

'23 Episentrum' terdiri dari dua buku: novel dan suplemen. Novelnya sendiri bercerita tentang tiga anak muda yang berjuang untuk menemukan dan mengejar impian mereka. Ada Matari, yang mati-matian mencari penghasilan untuk melunasi utang kuliahnya dengan bekerja sebagai reporter. Lalu Awan, berusaha untuk mewujudkan impiannya sebagai penulis skenario film, namun masih harus terjebak dalam pekerjaannya sebagai pegawai bank. Terakhir, Prama, seorang pekerja di perusahaan minyak yang berlimpah materi, tetapi merasa belum menemukan kebahagiaan dan makna dalam hidupnya. Dengan masing-masing hambatan yang Matari, Awan, dan Prama lalui, mereka tetap saling mendukung dan membantu agar impian mereka cepat tercapai.

I was a lil bit disappointed, actually, karena banyak yang memberikan rating tinggi pada buku ini di Goodreads. Dan, mungkin juga karena ekspektasi saya yang ketinggian. Dengan segala permasalahan yang dimiliki oleh tiap karakter tersebut, menurut saya ceritanya bisa lebih seru dan greget lagi. Usaha Matari dalam melunasi seluruh hutang juga sepertinya mulus banget, membuat saya kurang bisa bersimpati dengan karakter tersebut. Selain itu, proses hubungan Matari dan Prama hanya diceritakan sepotong-sepotong, jadi saya nggak bisa merasakan chemistry di antara mereka berdua. Novel '23 Episentrum' ini juga mengandung banyak sekali percakapan. Ada beberapa bagian yang kurang disertai dengan keterangan atau deskripsi, jadi ketika membacanya, saya ngerasa bingung dan berpikir, "Tunggu, ini yang lagi ngomong siapa, ya?"

Meski begitu, novel ini penuh dengan motivasi dan pelajaran hidup yang bisa kita petik. Menurut saya, novel ini cocok banget dibaca oleh kalangan mahasiswa (terutama yang baru lulus dan akan memasuki dunia kerja) serta orang-orang yang sedang memulai karir, sesuai dengan passion dan keinginan hati mereka masing-masing. Saya suka bagaimana banyaknya kalimat yang bersifat memotivasi dalam novel ini tidak terdengar atau terkesan menggurui. Selain mendorong kita untuk terus mewujudkan mimpi, novel '23 Episentrum' juga mengajarkan kita untuk sering berbagi dan memberi kepada sesama.

Sedangkan buku 'Suplemen 23 Episentrum' berisi tentang kisah-kisah singkat 23 orang dari berbagai profesi tentang perjalanan mereka dalam mewujudkan mimpi dan cita-cita. Mereka adalah bukti-bukti nyata bahwa mimpi benar-benar bisa diraih apabila kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Bagi yang suka membaca kisah-kisah nyata inspiratif, 'Suplemen 23 Episentrum' ini cocok sekali. Terlebih, setiap kisah berasal dari profesi yang berbeda, mulai dari guru, jurnalis, pengusaha, diplomat, hingga pilot. Buku ini benar-benar dapat menjadi suplemen bagi mereka yang sedang butuh motivasi dan semangat dalam meraih impiannya.

Jadi, sebenarnya apakah 23 Episentrum itu? Apa kaitannya dengan Matari, Awan, dan Prama? Kamu harus membaca lembar demi lembar halaman buku ini, lalu ikut larut dalam perjalanan mata, hati, dan hari, agar bisa menemukan arti dari 23 Episentrum yang sesungguhnya. ;)

Friday, August 3, 2012

Review: The Catcher in the Rye - J. D. Salinger

Judul: The Catcher in the Rye
Penulis: J. D. Salinger
Penerbit: Little, Brown and Company
Tebal: 214 halaman
Tahun Terbit: 1991
Rating: 4/5
Goodreads Synopsis:
Since his debut in 1951 as The Catcher in the Rye, Holden Caulfield has been synonymous with "cynical adolescent." Holden narrates the story of a couple of days in his sixteen-year-old life, just after he's been expelled from prep school, in a slang that sounds edgy even today and keeps this novel on banned book lists. It begins,

"If you really want to hear about it, the first thing you'll probably want to know is where I was born and what my lousy childhood was like, and how my parents were occupied and all before they had me, and all that David Copperfield kind of crap, but I don't feel like going into it, if you want to know the truth. In the first place, that stuff bores me, and in the second place, my parents would have about two hemorrhages apiece if I told anything pretty personal about them."

His constant wry observations about what he encounters, from teachers to phonies (the two of course are not mutually exclusive) capture the essence of the eternal teenage experience of alienation.
.....

The Catcher in the Rye berkisah tentang seorang laki-laki remaja berumur 16 tahun yang dikeluarkan dari sekolahnya, Pencey Prep, karena tidak lulus ujian. Ia hanya lulus di satu mata pelajaran: Bahasa Inggris. Holden Caufield, anak laki-laki tersebut, sebenarnya tidaklah bodoh, mengingat bahwa Pencey Prep merupakan salah satu sekolah privat terbaik di Pennysilvania. Dan Pencey adalah entah sekolah keberapa yang dimasuki Holden setelah ia dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya dengan kasus yang serupa.

Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Desember, sebelum natal. Sebenarnya Holden masih mempunyai waktu tiga hari sebelum ia benar-benar harus melangkahkan kaki keluar dari Pencey. Namun, karena ia bertengkar dengan salah satu temannya, dan ia sudah merasa sangat muak, akhirnya ia pun pergi lebih cepat. Di tengah rasa bingung dan frustrasi-nya, Holden memutuskan untuk melakukan trip dadakan ke New York. Di sana, ia dipaksa harus berhadapan dengan kesepian, kekecewaan, dan kemarahan yang ia rasakan terhadap dirinya sendiri, serta bagaimana ia berjuang untuk menemukan identitas dan jati dirinya.

Novel ini diceritakan dari sudut pandang Holden, yang sering sekali menggunakan kata-kata umpatan dan caci maki kepada orang-orang yang ditemuinya. Saya bahkan sempat iseng menghitung jumlah kata 'goddam' yang terdapat dalam satu kalimat, saking banyaknya. :p 'The  Catcher in the Rye' juga mengandung banyak banget kata-kata slank semacam 'helluva', 'phony', 'dough' yang membuat novel ini terkesan gaul banget, sehingga ketika membacanya, saya jadi ngerasa seperti sedang mendengarkan curhat dari seorang teman. Di balik segala pilihan kata-kata yang disampaikan oleh Holden dalam kisahnya, sesungguhnya ia bukanlah orang yang jahat. Ia memang nakal, suka bertingkah sok dewasa, namun di beberapa bagian hal tersebut justru membuat saya tertawa atau bahkan terharu. Belum lagi tentang bagaimana sikap aku-benci-dunia yang ditunjukkannya, namun cara ia menyayangi adik perempuannya, Phoebe, terasa begitu heartwarming.

Yang membuat saya agak kecewa adalah ending-nya. Saya masih pengen tau lebih jauh lagi tentang kisahnya Holden, tapi novelnya malah berakhir. Dan, entah kenapa, 'The Catcher in the Rye' sedikit banyak mengingatkan saya dengan 'The Perks of Being a Wallflower' karya Stephen Chbosky. Mungkin karena sama-sama ditulis menggunakan format menyerupai diary meskipun tokoh utama dalam 'The Perks of Being a Wallflower' sangat, sangat berbeda dari Holden.

After all, 'The Catcher in the Rye' is very worth to read. Kalau enggak, bagaimana mungkin novel ini masih dinikmati oleh banyak orang setelah diterbitkan pertama kali lebih dari 50 tahun yang lalu? :)

Thursday, August 2, 2012

Review: Perempuan yang Melukis Wajah - 8 Penutur Hujan

Judul: Perempuan yang Melukis Wajah
Penulis: Ainun Chomsun, Fajar Nugros, Hanny
Kusumawati, Karmin Winarta, M. Aan Mansyur,
Mumu Aloha, Ndoro Kakung, Wisnu Nugroho.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 176 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 3,5/5
Paperback Synopsis:
Alangkah banyak cerita yang dapat disampaikan rinai hujan.

Kisah tentang kekasih, perjumpaan, kehangatan. Seorang pengelana yang bertemu belahan jiwanya di bandara perhentian yang ramai. Kekasih yang berbagi kehangatan kala hujan deras mengetuk kaca jendela di luar.

Namun, ada pula cerita tentang perpisahan, kerinduan, dan kenangan. Seorang anak lelaki yang merindukan ibunya setiap kali hujan turun. Sahabat yang merelakan kekasihnya menempuh hidup baru. Seorang perempuan yang mengenang lelakinya dalam lukisan.

Di buku ini terhimpun sebelas cerita cinta dari delapan penulis. Pilihlah tempat untuk membaca. Siapkan secangkir kopi. Mulailah dari halaman mana saja. Dan bila kau mau menajamkan telinga, sayup-sayup akan terdengar derai halus hujan di latar belakang.

Selamat membaca.
.....

'Perempuan yang Melukis Wajah' merupakan buku kompilasi cerpen hasil dari tulisan karya @pasarsapi, @captainugros, @beradadisini, @fanabis, @hurufkecil, @mumualoha, @ndorokakung, dan @beginu. Ada sebelas cerita pendek dalam buku ini dan semuanya memiliki satu benang merah, yakni hujan. Sayangnya, ini mungkin saya aja yang error, tapi entah kenapa saya kurang bisa "nangkep" nuansa hujan-nya. Bahkan, kalau nggak ada kata 'hujan' di sampul buku, saya mungkin nggak bakalan sadar kalau benang merah dalam buku ini adalah hujan.

But, hey, that doesn't mean I couldn't enjoy this book. In fact, I like it!

Seluruh cerpen yang ada dalam buku ini membentuk suatu harmoni yang cukup apik, membuat buku ini pas banget dibaca di malam hari, sambil minum teh hangat, dan bergelung dalam selimut tebal! Meskipun ada satu-dua cerita pendek yang kurang menimbulkan kesan mendalam, namun hal tersebut nggak mengurangi kenikmatan saya dalam membaca buku ini kok. Dan yang cukup menarik perhatian saya adalah Hanny Kusumawati. Ia menyumbang cerpen dengan jumlah paling banyak--tiga buah--dan ketiganya langsung jadi favorit saya: 'Humsafar', 'Enam Jam', dan 'Yang Tertinggal'.

Judul buku sendiri diambil dari karya Karmin Winarta, bercerita tentang seorang wanita yang begitu mencintai pria pasangannya. Oh ya, saya juga suka dengan lay-out 'Perempuan yang Melukis Wajah' ini. Pas. Yang kurang adalah jumlah halamannya. Seandainya aja para penulis mengontribusikan lebih banyak karyanya. But, in the end, what matters is how you can get such a good personal experience from reading a book, right? Karena, bagi saya, membaca buku ini efeknya sama seperti ketika saya selesai mendengarkan album Battle Studies-nya John Mayer; rasanya kayak jatuh cinta, patah hati, lalu diselamatkan. Dan siklus itu terus berulang tiap saya membaca cerita pendek baru.

Wednesday, August 1, 2012

Words of the Day

"Do you think being an avid reader is easy? It's not. It's not at all. 
You usually have crush on your schoolmates, right? Well, we fall for fictional characters. Oh things we'll do for them to come alive! If (s)he doesn't know your existence, that hurts but well, you can still see him from afar, right? We can't. We can only see them in words, imagine what they look like. Desperately longing, helplessly being in love. 
And the things we do to our favorite authors. We stalk, we write love letters, we curse their genius brains in secret. It's exhausting! And we count days, weeks, months; we root for the day they publish their latest works, or even announce that they are writing a new one. 
And the expectation! We can't stand but putting our hopes in the sky. We want their works to be good all the time. If they don't, we cry.
Getting a tweet/e-mail/any sign of appreciation from our favorite authors feels like we've just won a lottery. It's just too precious. I would feel like putting "_____ tweeted me" in my achievement column (In fact, I almost did). And we constantly wonder what our favorite authors will be doing by now. Are they eating what I'm eating? Are they even human? 
We also have no control of our inner demons; the other being in ourselves who feeds on new books. Our tendency to hoard. Do you think we don't feel sad of the piles of unread books in our shelves? We weep for them. But we can't help it. We're numb without books. It's not healthy for our wallets. Nor is it for our body. But if we see books and we can't buy or read it, we're like suffocated. You might as well tie us up in chairs and put us in a dark, creepy room and duct-tape our mouths. The feeling isn't unlikely. It's mutual. 
But you should know why we love books that much. 
A book is a house. It offers us blankets, warm clothes, milk, biscuits. It's our friend, our teacher, our enemy, our guardian, our pet. Books are loyal. If you get tired of them, they understand. Maybe you want to go on an adventure, try new things, then may think. Your friends may change, you may change, but books don't. The characters on your favorite books won't. You dump them for a while, they're always waiting. When you miss them, they welcome you open-handed. And it's sad. Knowing you can grow up, study hard, earn money, get married, have kids. They don't, unless their creators want them to."
-@ndarow 

Review: Twivortiare - Ika Natassa

Judul: Twivortiare
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 360 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 4/5
Paperback Synopsis:
“Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.”

Do busy bankers tweet? Yes, they do. Empat tahun setelah Divortiare, Alexandra membuka kembali hidupnya kepada publik melalui akun Twitter-nya @alexandrarheaw. Lembar demi lembar buku ini adalah hasil “mengintip” kehidupannya sehari-hari, pemikirannya yang witty dan sangat jujur, spontan, chaotic, dan terkadang menusuk, yang akhirnya akan bisa menjawab pertanyaan: “Dapatkah kita mencintai dan membenci seseorang sedemikian rupa pada saat bersamaan?”

Twivortiare adalah kisah klasik tentang cinta dan luka, terangkai dalam tweets, mentions, dan DM yang lahir lewat ujung-ujung jemari karakter-karakternya.

.....

Saya nulis review ini setelah membaca Twivortiare sebanyak dua kali; yang pertama baca edisi terbitan NulisBuku, yang kedua baca edisi terbitan GPU. Lho, edisi terbitan GPU kan baru dirilis tanggal 9 Agustus? Soalnya saya ikutan pre-order, biar bisa dapet TTD-nya Ika Natassa. I'm such an avid reader, I know. I don't care, though. :p

Buku ini berisi tentang kumpulan tweets milik Alexandra Rhea Wicaksono, seorang workaholic banker. Namun, di sisi lain ia juga dengan senang, ikhlas, dan sabar menjalani hari-harinya sebagai istri dari Beno Wicaksono, seorang dokter bedah jantung yang jadwalnya bisa ngalahin jadwal Presiden, saking sibuknya! Sounds familiar, huh? Setelah bertemu di Rumah Sakit pada malam lebaran dulu (Divortiare, 2008), Alex dan Beno akhirnya memutuskan untuk rujuk dan kembali menjadi sepasang suami-istri. Alex menuangkan cerita kehidupan sehari-harinya bersama sang dokter melalui akun Twitter-nya, @alexandrarheaw.

Belajar dari pengalaman pahit pada pernikahan pertama mereka yang diceritakan dalam Divortiare, kini Alex dan Beno berusaha mati-matian untuk memperbaiki segalanya di pernikahan kedua ini--saling menguatkan, lebih  pengertian, perhatian satu sama lain, dan yang paling penting, untuk tidak menyerah apabila salah satu mulai merasa lelah--despite all of their differences. Alex pun tiba pada suatu titik di mana ia mulai menyadari bahwa 'to love and hate someone at the same time' does exist. Bukankah orang yang paling kita cintai justru yang paling bisa memberikan rasa sakit begitu dalam?

Twivortiare benar-benar menyuguhkan pengalaman baru dalam membaca. Format tweets--dan itu bikin kecanduan! Once I opened the book, I just couldn't put it down. Tweets-nya Alex yang begitu blak-blakan, jujur, witty, kadang nyerempet bahasan untuk 18+ juga, bener-bener seru buat dilewatkan. Dan saya tau bahwa Alex dan Beno itu nggak nyata, hanya fictional characters aja, but the way Ika Natassa wrote those tweets make them seem sooo real! Bahkan, kalau lagi bengong, kadang-kadang saya kepikiran, "Alex-Beno lagi ngapain ya kira-kira jam segini?" LOL!

Selain mengungkap tentang kehidupan sehari-harinya, Alex juga cukup sering ngasih tips-tips tentang relationship dan dunia kerja, khususnya buat para perempuan. Kadang ada juga berbagai pandangan tentang hidup dari si Dokter Beno yang di-tweet oleh Alex. Tapi, yang sering membuat saya jejeritan sendiri adalah tweets tentang bagaimana hal-hal kecil yang dilakukan oleh Alex-Beno yang membuat pernikahan kedua ini lebih 'bernyawa', bagaimana Beno selalu mengejar Alex setiap istrinya itu memutuskan untuk pergi, bagaimana mereka berdua selalu meletakkan kepentingan satu sama lain di atas apa pun. Pokoknya saya suka deh sama berbagai usaha yang mereka berdua lakukan agar pernikahan kedua ini nggak berakhir seperti yang pertama.

Namun, ada juga yang cukup membuat saya sebal sepanjang membaca buku ini; Alex-Beno itu labil sekali, sih? Barusan aja baikan, eh lalu bertengkar lagi. Dan kebanyakan hal yang menyulut permasalahan di antara mereka itu sepele. Selain itu, di bagian akhir, entah kenapa saya merasa kalau ceritanya berlalu terlalu cepat, kayak mendadak ada yang mencet tombol flash-forward. Tapi, hal-hal tersebut nggak membuat saya kehilangan kesenangan dalam membaca buku ini, kok. Twivortiare benar-benar layak ditunggu buat semua pecinta Divortiare (khususnya groupies-nya Beno!).

Oh ya, sampai sekarang, si Alex masih terus nge-tweet, lho! Go follow her!

Tuesday, July 31, 2012

Review: Seandainya - Windhy Puspitadewi

Judul: Seandainya
Penulis: Windhy Puspitadewi
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 226 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 2/5
Sinopsis:
Aku akan menjadi buih.... 

Seperti putri duyung di dongeng itu, kelak aku akan menjadi buih dan membawa mati semua rahasia hatiku. Sebut aku pesimis, tapi sudah terlalu lama aku menunggu saat yang tepat untuk kebenaran itu. Dan selama itu, aku melihat bagaimana benih-benih perasaanmu padanya pelan-pelan tumbuh hingga menjadi bunga yang indah.

Aku kalah bahkan jauh sebelum mulai angkat senjata. Kau ada di hidupku, tapi bukan untuk kumiliki. Kerjap mata indahmu hanya untuk dia dan selamanya itu tak akan berubah. Meski begitu, kenapa aku tidak berusaha berbalik dan mencari jalan keluar dari bayang-bayang dirimu?

Jika suatu hari kau menyadari perasaanku ini, kumohon jangan menyalahkan dirimu. Mungkin memang sudah begini takdir rasaku. Cintaku padamu tak akan pernah melambung ke langit ketujuh. Aku hanya akan membiarkan buih-buih kesedihanku menyaru bersama deburan ombak laut itu. Karena inilah pengorbanan terakhirku: membiarkanmu bahagia tanpa diriku....

.....

Ber-setting di kota Surabaya, cerita berawal pada tahun 2002, ketika Rizki, Juno, Arma, dan Christine bertemu untuk pertama kalinya. Juno dan Arma merupakan adik-kakak. Arma sempat harus meninggalkan bangku sekolah selama setahun, sehingga kini ia harus menjadi seangkatan dengan sang adik. Pertemuan tersebut adalah titik awal dimulainya persahabatan mereka di bangku SMA. Lalu waktu melangkah ke tahun 2004, di mana konflik mulai muncul--tentang perasaan, mimpi, keluarga... yang dipendam terlalu lama. Waktu pun melompat ke tahun 2010, saat dua orang dari mereka berempat harus menerima akibat dari bungkamnya mereka akan perasaan masing-masing.

Buku ini adalah salah satu bukti kenapa saya nggak boleh menaruh harapan terlalu tinggi--terhadap apapun. Windhy Puspitadewi adalah salah satu penulis favorit saya. Saya ngikutin hampir semua karyanya, kecuali yang 'Run! Run! Run!', dan semuanya meninggalkan kesan yang cukup mendalam. Tapi, di buku 'Seandainya' ini, nggak begitu. Saya, jujur aja, kecewa. Dari segi alur, menurut saya perpindahannya terlalu cepat; dimulai dari pertemuan Rizki, Juno, Arma, dan Christine, lalu cerita mulai fokus pada masing-masing karakter, dan diakhiri dengan sesuatu yang tidak dijelaskan di awal maupun tengah cerita. Chemistry persahabatan mereka juga kurang terasa karena mereka berempat jarang sekali diceritakan berinteraksi bersama.

Sedangkan dari segi karakter, saya nggak punya ketertarikan yang cukup mendalam, mungkin karena perpindahan sudut pandang yang terlalu sering. Tapi, yang saya suka dari novel-novel Windhy adalah betapa bijak dan dewasa para karakternya, membuat saya berpikir bahwa mungkin masih ada, lho, pria yang benar-benar baik di dunia ini. Lewat para karakternya, saya bahkan bisa mengambil banyak kutipan yang keren banget. Satu lagi yang membuat novel ini begitu 'Windhy', yaitu bahasanya yang formal dan cenderung puitis, nggak peduli tokoh-tokohnya yang masih duduk di bangku SMA.

Meski ada kekurangan di sana-sini, novel 'Seandainya' nggak membuat saya kapok kok untuk tetap setia menunggu dan membaca karya-karya Windhy selanjutnya. Semoga nantinya bisa lebih baik dan mengobati kekecewaan saya pada buku ini. Dan, oh ya, salah satu alasan saya membeli buku ini, selain karena faktor penulis, adalah karena cover-nya yang manis, antik, unik banget. Bravo untuk ilustratornya! :)

Review: 1Q84 - Haruki Murakami

Judul: 1Q84
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Knopf Doubleday Publishing Group
Tebal: 925 halaman
Tahun Terbit: 2011
Rating: 4,5/5
Sinopsis:
The year is 1984 and the city is Tokyo.

A young woman named Aomame follows a taxi driver’s enigmatic suggestion and begins to notice puzzling discrepancies in the world around her. She has entered, she realizes, a parallel existence, which she calls 1Q84 —“Q is for ‘question mark.’ A world that bears a question.” Meanwhile, an aspiring writer named Tengo takes on a suspect ghostwriting project. He becomes so wrapped up with the work and its unusual author that, soon, his previously placid life begins to come unraveled. 

As Aomame’s and Tengo’s narratives converge over the course of this single year, we learn of the profound and tangled connections that bind them ever closer: a beautiful, dyslexic teenage girl with a unique vision; a mysterious religious cult that instigated a shoot-out with the metropolitan police; a reclusive, wealthy dowager who runs a shelter for abused women; a hideously ugly private investigator; a mild-mannered yet ruthlessly efficient bodyguard; and a peculiarly insistent television-fee collector.

.....

Awalnya, novel 1Q84 ini ditulis oleh Haruki Murakami dalam bahasa Jepang, lalu mulai diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, salah satunya bahasa inggris. Sebenarnya saya mau nungguin sampai buku ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia, tapi karena sudah penasaran banget pengen baca, akhirnya memutuskan untuk membeli yang edisi bahasa Inggris. And this is sort of embarrassing, but it took me four freaking months to finish this book. Meski ini bukan pertama kalinya saya baca novel dalam bahasa Inggris, tapi 925 halaman itu cukup bikin saya menelan ludah, sih. Belum lagi selama empat bulan itu, bisa dibilang saya berada di masa-masa di mana saya sedang malas membaca buku. *self-toyor*

1Q84 merupakan karya kedua Haruki Murakami yang saya baca. Norwegian Wood adalah yang pertama. 1Q84 sendiri merupakan plesetan dari 1984 (latar waktu kisah ini terjadi), yang dicetuskan oleh Aomame, tokoh utama wanita dalam buku tersebut. Aomame merupakan seorang instruktur kesehatan dan "pembunuh" bayaran yang di-back up oleh salah satu kliennya, seorang janda tua yang kaya. Suatu hari, ketika sedang dalam perjalanan untuk menunaikan suatu misi dari klien tersebut, Aomame merasa bahwa tanpa sadar ia telah "berpindah" ke dunia yang surreal dan penuh dengan pertanyaan, ditandai dengan meningkatnya jumlah bulan menjadi dua. Ia menyebutnya 1Q84.

Di sisi lain, ada Tengo, sang tokoh utama pria, yang berprofesi sebagai guru matematika dan penulis lepas. Suatu hari ia menerima tawaran dari seorang editor untuk menjadi ghost-writer, dengan menulis ulang karya berjudul "Air Chrysalis" milik gadis unik berumur 17 tahun, Fuka-Eri. Sejak itu, banyak masalah muncul dalam kehidupan Tengo. Dan masalah pun memuncak ketika Tengo sadar bahwa dunianya mendadak berubah persis seperti apa yang dituliskannya dalam "Air Chrysalis", di mana jumlah bulan meningkat menjadi dua.

Jadi... apa hubungan antara Aomame dan Tengo? Mengapa dunia mereka mendadak berubah? I won't give you the spoiler, though. :p

Seperti biasa, tulisan Murakami penuh dengan deskripsi yang mendetail meskipun dalam beberapa bagian cukup erotis. Detail yang digambarkan nggak hanya fisik dan ruang, tapi juga secara emosional. Penceritaan diambil dari sudut pandang Aomame dan Tengo pada buku 1 dan 2, lalu ditambah sudut pandang pihak ketiga bernama Ushikawa pada buku 3. Kisah dalam 1Q84 bisa dibilang perpaduan dari misteri, thriller, keluarga, cinta, dan religion. Semakin jauh saya membaca, semakin saya penasaran dengan buku ini. Jadi, meskipun 1Q84 ini tebal dan alurnya cukup lamban, saya nggak ngerasa bosan. Dan, satu lagi yang saya suka, 1Q84 penuh dengan banyak quotes menarik.
"That's what the world is, after all: an endless batlle of contrasting memories."
"Once you let yourself grow close to someone, cutting the ties could be painful."
"I can say that things are going all that well for the moment, but if possible I'd like to make my living by writing. Writing - and especially fiction writing - is well suited to my personality, I think."
"There are always far more people in theworld who make things worse, rather than help out." 
Sayangnya, menurut saya nih, 1Q84 meninggalkan banyak banget pertanyaan. Ada hal-hal yang sepertinya belum tuntas, belum terjawab, sengaja dibiarkan menggantung. Mungkin memang sengaja dibiarkan jadi teka-teki kali, ya, biar sesuai sama esensi judulnya. Tapi rasanya jadi nggak enak banget. Begitu saya selesai baca 1Q84, saya jadi kepikiran untuk mengirim e-mail ke Murakami, tanya-tanya tentang 1Q84. Nggak saya lakuin, tentu aja.

Well, meskipun 1Q84 ini merupakan buku yang bagus, laris, dan sudah ditunggu-tunggu oleh banyak penggemar Murakami, tapi saya nggak menyarankan buku ini untuk dibaca para penikmat awal karya Murakami. Norwegian Wood would be a better choice, I think.

Review: Sunshine Becomes You - Ilana Tan

Judul: Sunshine Becomes You
Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 432 halaman
Tahun terbit: 2012
Rating: 4/5
Sinopsis:
“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.” 

Ini adalah salah satu kisah yang terjadi di bawah langit kota New York… 
Ini kisah tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan… 
Tentang impian yang bertahan di antara keraguan… 
Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup. 

Awalnya Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu—malaikat kegelapannya yang sudah membuatnya cacat. 
Kemudian Mia Clark tertawa dan Alex bertanya-tanya bagaimana ia dulu bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapannya. 

Awalnya mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga. 
Kemudian Alex Hirano tersenyum dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.

.....

Ber-setting di kota New York, novel ke-5 Ilana Tan ini bercerita tentang witing tresna jalaran saka kulina. Tentang benci jadi cinta. Tentang Mia Clark si penari kontemporer yang tanpa sengaja membuat tangan kiri Alex Hirano, seorang pemain piano, cedera. Merasa amat bersalah, Mia pun berinisiatif menawarkan diri untuk membantu Alex melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukannya dengan satu tangan.

Walau menurut saya kisahnya cukup klasik dan ending-nya mudah ditebak, namun gaya menulis Ilana Tan yang ringan dan manis membuat saya nggak bisa berhenti membaca lembar demi lembar halamannya. Penggambaran karakternya pas. Minim typo, pula! Dan seperti novel Tetralogi Empat Musim sebelumnya, Ilana Tan juga menampilkan unsur-unsur romantis dalam Sunshine Becomes You. Saya pribadi suka bagaimana Ilana Tan membuat hal-hal kecil menjadi adegan yang romantis dan sukses bikin saya jejeritan.

Selain itu, permainan PoV atau sudut pandang-nya juga bagus. Ilana Tan memakai sudut pandang orang ketiga yang berpindah-pindah dari satu karakter ke karakter yang lain. Nah, perpindahan sudut pandang karakternya itu menurut saya mulus banget. Bisa dibilang hal ini menjadi salah satu kelebihan Ilana Tan dalam menulis cerita.

Sayangnya, ada beberapa bagian yang menurut saya nggak begitu penting dan menunjang cerita. Kesannya kayak cuma untuk nambah-nambahin aja. Ilana Tan juga kurang maksimal dalam mengeksplor setting tempat yang dipilihnya. Kota New York hanya dijelaskan seiprit, padahal hal tersebut bisa jadi nilai plus kalau ditulis lebih detail lagi.

Tapi, overall, Sunshine Becomes You menjadi bacaan yang cukup membekas (in a good way) di pikiran--dan hati--saya. Saya begadang sampe jam tiga pagi demi menamatkan buku ini, gara-gara suka banget sama hubungan Mia dan Alex yang sweet! Yah, walaupun menurut saya, Sunshine Becomes You belum bisa menggantikan kedahsyatan novel Tetralogi Empat Musim sebelumnya. *lebay* :p

Monday, July 30, 2012

Review: Rumah Cokelat - Sitta Karina

Judul: Rumah Cokelat
Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Buah Hati
Tebal: 226 halaman
Tahun terbit: 2011
Rating: 3,5/5
Sinopsis:
JADI IBU MUDA BEKERJA DI JAKARTA TIDAK MUDAH! Hannah Andhito adalah tipikal perempuan masa kini di kota besar; bekerja di perusahaan multinasional, mengikuti tren fashion dan gaya hidup terkini sambil berusaha menabung untuk keluarga kecilnya, sangat menyukai melukis dengan cat air (yang ternyata baru ia sadari ini adalah passion-nya!), memiliki suami yang tampan dan family-oriented, sahabat SMA yang masih in touch, serta si kecil Razsya yang usianya jalan 2 tahun. 

Sempurna? Awalnya Hannah merasa begitu sampai Razsya bergumam bahwa ia menyayangi pengasuh yang sehari-hari selalu bersamanya. Perjalanan Hannah menemukan makna menjadi seorang ibu yang sesungguhnya dimulai sejak momen itu.

.....

Novel dengan genre MomLit ini bercerita tentang usaha Hannah Andhito dalam membuat kehidupan keluarga kecil dan karirnya seimbang. Ternyata hal tersebut tidak mudah karena dalam perjalannya, ia dihadapkan pada berbagai macam persoalan yang cukup bikin pusing. Dan salah satu yang cukup membuatnya kepikiran adalah si kecil Razsya yang bergumam dalam tidurnya bahwa ia menyayangi Mbak Upik, si pengasuh yang sehari-hari bersamanya. Sejak saat itu, Hannah mulai merasa bahwa perannya sebagai Ibu kurang maksimal.

Saya suka banget dengan keluarga kecil Andhito ini. Karakter Hannah yang emosinya suka meledak-ledak tapi selalu mementingkan keluarga, cocok dengan Wigra sang suami yang begituhumble, sabar, dan perhatian. Nggak ketinggalan si kecil Razsya yang sedang lincah-lincahnya dan doyan bertanya ini-itu. Maka, rasanya nggak berlebihan kalau saya bilang bahwa kisah 'Rumah Cokelat' ini begitu sweet, yang mana merupakan salah satu kelebihan Sitta Karina dalam membuat cerita. Hebatnya lagi, walau ber-genre MomLit, menurut saya novel ini cocok juga bagi pembaca yang belum menikah.

Sayangnya, ada beberapa konflik yang rasanya kurang dieksplor. Padahal, menurut saya konflik tersebut bisa jadi konflik utama yang seru dalam novel ini. Contohnya, tentang hubungan Wigra dengan Olivia Chow dan Ara yang hanya menjadi konflik selingan. Selain itu, karakter Banyu dan Smith juga sepertinya kurang digali lebih dalam, mengingat kedua tokoh tersebut cukup sering muncul dalam novel ini.

But, overall, seperti novel-novel Sitta Karina sebelumnya, 'Rumah Cokelat' ini mempunyai pesan-pesan inspiring tentang esensi keluarga, juga membuka pikiran kita bahwa sebenarnya menjadi Ibu Rumah Tangga itu nggak sesimpel kedengarannya. Gara-gara baca buku ini juga, bertambah deh fictional character ciptaan Sitta Karina yang jadi favorit saya. Selain Carlo Andara Hanafiah, Sigra Hening Hanafiah, dan Nikratama Zakrie, kini Wigraha Andhito pun masuk dalam daftar. Smooch, smooch!

Review: Sekeping Tanda - Andi Wirambara

Judul: Sekeping Tanda
Penulis: Andi Wirambara
Penerbit: Indie Book Corner
Tebal: 164 halaman
Tahun terbit: 2011
Rating: 4/5
Sinopsis:
"Katanya, dulu ada gadis SMA yang senang nonton ke bioskop. Dia semata wayang, mungkin karena itu orang tuanya jadi over protektif padanya. Khawatir dengan nilai dan pergaulannya jika suka keluar menonton. Orang tuanya melarangnya pergi ke bioskop. Tapi gadis ini sering kabur dan mencuri kesempatan menonton. Hingga akhirnya orang tuanya tahu, marah besar dan ia kabur. Namun ia ditabrak mobil sewaktu menyebrang jalan dan tewas. Konon, ia suka menampakkan diri di bangku belakang bioskop-bioskop. Entah kenapa," Nada justru bercerita.

"Lalu, buat apa kamu cerita?" Pikiranku sudah kemana-mana, mengkait-kaitkan logika dengan tiap prakiraanku terhadapnya. Ia tersenyum lagi, tak menjawab. 

.....

Sejujurnya, saya kurang begitu suka baca buku kumpulan cerpen. Cerita pendek, saya suka. Tapi buku kumpulan cerita pendek? Nggak tau kenapa saya kurang tertarik. Buku kumpulan cerpen atau fiksi yang saya punya cuma yang karangannya Sitta Karina dan Dewi Lestari aja. Tapi, pas ke Gramedia Tunjungan Plaza hari Sabtu lalu, saya lihat buku ini. Awalnya saya kira itu novel, makanya saya tertarik untuk membawanya ke kasir lalu menukarkannya dengan sejumlah uang.

Begitu saya buka, saya ngerasa agak kecewa karena ternyata buku ini merupakan sebuah kumpulan cerita pendek. Tapi... akhirnya saya malah jadi suka. Banget.

Buku berjudul 'Sekeping Tanda' yang berisi lima belas cerita pendek ini merupakan karya dari Andi Muhammad Era Wirambara. Diawali dengan 'Nalia' yang berkisah tentang perjuangan mendapatkan cinta seseorang dengan menggunakan analogi medali, dan diakhiri dengan 'Di Antara Hujan Lalu', sebuah kisah tentang seorang cowok yang mendadak teringat dengan perjalanan hatinya di masa lalu, padahal saat itu ia sedang berantem dengan sang pacar.

Kisah favorit saya adalah Patung Taman, Bangku Belakang Bioskop, Puisi - Mati, Di Antara Hujan Lalu--ah saya suka hampir semuanya! Saya suka gaya bahasa dan diksi yang dipilih Bara dalam cerpen-cerpennya. Puitis. Manis. Romantis. Ide-idenya juga sederhana namun dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi luar biasa dan penuh kejutan. Semua cerpen dalam buku ini mengandung unsur cecintaan, tapi nggak semua berakhir manis, ada pula yang tragis dan bernuansa dark seperti 'Desing' dan 'Puisi - Mati'. Selain itu, dalam beberapa cerpennya, diselipkan puisi-puisi yang menurut saya cantik. Menarik.

Sayangnya, di dalam beberapa halaman, ada tulisan yang cetakannya kurang jelas, seperti dipaksa cetak padahal tintanya habis. Cukup mengganggu, sih, tapi nggak mengurangi rasa exciting saya untuk terus membaca buku ini hingga halaman terakhir. Beneran deh, buku ini layak banget dibaca. Selalu ada lesson learned di setiap cerpennya. Good job untuk Bara! Semoga nggak ada lagi hal-hal teknis mengganggu di cetakan selanjutnya. Saya nunggu karya kamu selanjutnya!

Dan, pada akhirnya, buku kumpulan cerita pendek saya bertambah. Saya sama sekali nggak menyesal sudah membeli dan membaca buku ini.