Friday, August 3, 2012

Review: The Catcher in the Rye - J. D. Salinger

Judul: The Catcher in the Rye
Penulis: J. D. Salinger
Penerbit: Little, Brown and Company
Tebal: 214 halaman
Tahun Terbit: 1991
Rating: 4/5
Goodreads Synopsis:
Since his debut in 1951 as The Catcher in the Rye, Holden Caulfield has been synonymous with "cynical adolescent." Holden narrates the story of a couple of days in his sixteen-year-old life, just after he's been expelled from prep school, in a slang that sounds edgy even today and keeps this novel on banned book lists. It begins,

"If you really want to hear about it, the first thing you'll probably want to know is where I was born and what my lousy childhood was like, and how my parents were occupied and all before they had me, and all that David Copperfield kind of crap, but I don't feel like going into it, if you want to know the truth. In the first place, that stuff bores me, and in the second place, my parents would have about two hemorrhages apiece if I told anything pretty personal about them."

His constant wry observations about what he encounters, from teachers to phonies (the two of course are not mutually exclusive) capture the essence of the eternal teenage experience of alienation.
.....

The Catcher in the Rye berkisah tentang seorang laki-laki remaja berumur 16 tahun yang dikeluarkan dari sekolahnya, Pencey Prep, karena tidak lulus ujian. Ia hanya lulus di satu mata pelajaran: Bahasa Inggris. Holden Caufield, anak laki-laki tersebut, sebenarnya tidaklah bodoh, mengingat bahwa Pencey Prep merupakan salah satu sekolah privat terbaik di Pennysilvania. Dan Pencey adalah entah sekolah keberapa yang dimasuki Holden setelah ia dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya dengan kasus yang serupa.

Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Desember, sebelum natal. Sebenarnya Holden masih mempunyai waktu tiga hari sebelum ia benar-benar harus melangkahkan kaki keluar dari Pencey. Namun, karena ia bertengkar dengan salah satu temannya, dan ia sudah merasa sangat muak, akhirnya ia pun pergi lebih cepat. Di tengah rasa bingung dan frustrasi-nya, Holden memutuskan untuk melakukan trip dadakan ke New York. Di sana, ia dipaksa harus berhadapan dengan kesepian, kekecewaan, dan kemarahan yang ia rasakan terhadap dirinya sendiri, serta bagaimana ia berjuang untuk menemukan identitas dan jati dirinya.

Novel ini diceritakan dari sudut pandang Holden, yang sering sekali menggunakan kata-kata umpatan dan caci maki kepada orang-orang yang ditemuinya. Saya bahkan sempat iseng menghitung jumlah kata 'goddam' yang terdapat dalam satu kalimat, saking banyaknya. :p 'The  Catcher in the Rye' juga mengandung banyak banget kata-kata slank semacam 'helluva', 'phony', 'dough' yang membuat novel ini terkesan gaul banget, sehingga ketika membacanya, saya jadi ngerasa seperti sedang mendengarkan curhat dari seorang teman. Di balik segala pilihan kata-kata yang disampaikan oleh Holden dalam kisahnya, sesungguhnya ia bukanlah orang yang jahat. Ia memang nakal, suka bertingkah sok dewasa, namun di beberapa bagian hal tersebut justru membuat saya tertawa atau bahkan terharu. Belum lagi tentang bagaimana sikap aku-benci-dunia yang ditunjukkannya, namun cara ia menyayangi adik perempuannya, Phoebe, terasa begitu heartwarming.

Yang membuat saya agak kecewa adalah ending-nya. Saya masih pengen tau lebih jauh lagi tentang kisahnya Holden, tapi novelnya malah berakhir. Dan, entah kenapa, 'The Catcher in the Rye' sedikit banyak mengingatkan saya dengan 'The Perks of Being a Wallflower' karya Stephen Chbosky. Mungkin karena sama-sama ditulis menggunakan format menyerupai diary meskipun tokoh utama dalam 'The Perks of Being a Wallflower' sangat, sangat berbeda dari Holden.

After all, 'The Catcher in the Rye' is very worth to read. Kalau enggak, bagaimana mungkin novel ini masih dinikmati oleh banyak orang setelah diterbitkan pertama kali lebih dari 50 tahun yang lalu? :)

5 comments:

  1. this book is on my currently reading list right now! Glad because u mentioned that this book was lil bit reminds you of The Perks of Being Wallflower since I looooove that book >,<

    ReplyDelete
  2. Ah, I love The Perks of Being a Wallflower, too! I love Charlie! But Holden, the main character of The Catcher in the Rye, is 100% different from Charlie, yet there are certain things that reminded me of him. I think you should read it. ;)

    ReplyDelete
  3. ehhmm...may i ask something? what things that make you guys love TPOBW? i've read that book also, but it's kinda hard for me to get the point....

    ReplyDelete
  4. Kalau the perks of being a wallflower mah satir/ sindirannya halus, The catcher in the rye ini versi sindirannya keras. itu sih menurutku wkkwkwkw

    ReplyDelete
  5. Yuk segera join di KHARISMAPOKER situs poker terpercaya, teraman dan tercepat. Pelayan terbaik dan tercepat oleh CS yang berpengalaman dan ONLINE 24 jam.

    PROMO TERBARU KHARISMA POKER:

    * Bonus Referral 20% Seumur Hidup
    * Bonus Turnover 0,5% Setiap Harinya

    KEUNGGULAN KHARISMA POKER:

    * SEMUA BANK KAMI ONLINE 24 JAM !!
    * NO ROBOT & ADMIN
    * 100% Fair Play Member Vs Member
    * Proses Withdraw & Deposit Tercepat
    * Customer Service yang baik, ramah dan cantik.

    MELAYANI TRANSAKSI VIA BANK :

    * BCA
    * BNI
    * BRI
    * MANDIRI
    * DANAMON

    Dengan syarat minimal deposit hanya Rp 20.000 !!

    PENDAFTARAN GRATIS HANYA DENGAN MENGISI DATA DI : http://www.kharismapoker.com/Register

    SITUS POKER ONLINE TERPERCAYA

    LIVE CHAT ; DISINI
    Telp :+85587983703
    BBM ; khpk02
    WA : +85587983703
    LINE ; khpk02


    DISINI


    DISINI

    ReplyDelete