Saturday, June 15, 2013

Review: Jakarta Kafe - Tatyana

Judul: Jakarta kafe
Penulis: Tatyana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 294 halaman
Tahun Terbit: 2013
Rating: 3,5/5
Paperback Synopsis:
Jakarta, dalam cerita-cerita ini, adalah ceruk yang tenang tapi gersang, berisik tapi sunyi, gemerlap tapi muram. jakarta seperti musik jazz: serbaada dan menawarkan segala kemungkinan. Paradoks-paradoks itu bisa hadir sendiri-sendiri, tumpang tindih, atau berombongan sekaligus sehingga sulit menyebut apa warna jakarta sesungguhnya. Sebutlah sesuatu, itulah Jakarta.

Kisah yang berkesan ternyata tak perlu datang dari gagasan besar, imajinasi aneh-aneh. Tapi pengrajin yang baik akan memulas bonggol tak berguna menjadi patung yang dahsyat. Tergantung bagaimana keunikan dibentuk dengan jalinan yang bernas. Jakarta Kafe telah melakukannya.

.....

Saya suka terhadap hal-hal yang simpel nan cantik. Bagi saya, less is more. Hal itulah yang menurut saya ada dalam sampul buku 'Jakarta Kafe' dan menjadi salah satu alasan mengapa saya tertarik untuk membeli dan membacanya, sejak saya tidak tau, belum pernah dengar sama sekali dengan yang namanya Tatyana. So, yes, sometimes I do judge a book by its cover.

'Jakarta Kafe' merupakan sebuah buku dengan 25 cerita pendek di dalamnya. Awalnya, saya mengira kalau semua cerpen dalam buku ini akan ber-setting di sebuah kafe yang sama. Dan entah kenapa saya selalu suka cerita-cerita dengan kafe sebagai latar tempatnya. Jadi, bisa dikatakan, perkiraan saya itulah yang menjadi alasan kedua mengapa saya memutuskan untuk membeli dan membaca buku ini. Namun, ternyata saya salah. Memang ada beberapa cerpen yang latar tempatnya berada di kafe, tapi tidak semua dan tidak di satu kafe yang sama. But, hey, bukan lantas berarti saya merasa kecewa berat dan nggak mau membaca buku ini. Malahan, saya menikmati banget lho bacanya!

Buku ini diawali dengan cerpen berjudul 'Seafood', bercerita tentang seorang wanita berkeluarga yang "diajak" berselingkuh oleh salah seorang rekan kerjanya - dan diakhiri dengan 'Perempuan yang Tidak Suka Bulan Maret', bercerita tentang seorang wanita yang membenci bulan Maret karena sang suami meninggal pada bulan tersebut. Sedangkan, judul buku sendiri diambil dari cerpen dengan judul yang sama; bercerita tentang seorang pria yang terpaksa harus berdesak-desakkan di dalam bus setelah mengantar anaknya bersekolah.

Ketika pertama kali selesai membaca cerpen dalam buku ini, sejujurnya saya sempat mengerutkan kening karena rasanya ceritanya belum selesai. Menggantung. Unsolved. Tapi, setelah membaca cerpen demi cerpen, ternyata ya memang hampir semuanya begitu. Singkatnya, cerpen-cerpen dalam buku ini kayak potongan-potongan kisah kehidupan sehari-hari yang ada di sekitar kita. Mungkin itulah kenapa ketika membacanya, saya rasanya kayak lagi duduk sendirian di sebuah coffee shop, menyeduh kopi, sambil memerhatikan orang-orang di sekitar saya, dan diam-diam sok-sokan "membaca" kehidupan macam apa yang dijalani orang-orang itu.

Umumnya, cerpen-cerpen dalam buku ini bercerita tentang kehidupan orang dewasa; relationship, keluarga, kerja keras, perjuangan, kehidupan sosial, dan sebagainya. Nah, seperti kebanyakan buku kumpulan cerpen lain, tentu ada beberapa cerpen yang menarik perhatian dan beberapa lain yang "lewat" begitu saja. Secara pribadi, saya suka dengan 'Prancis', 'Reuni', 'Java Jive', 'Paycheck', 'Days of Wine and Roses' dan 'Peter Pan'. Bukannya lantas saya nggak suka dengan cerpen-cerpen lain, hanya aja... you know, kurang begitu ngena bagi saya. But, still, saya suka dengan gaya menulis dan bercerita Tatyana yang menurut saya cenderung puitis tapi ringan, renyah, mengalir gitu aja meskipun kadang saya agak gondok juga ketika baca beberapa cerpen yang diakhiri-gitu-aja-padahal-saya-pengen-baca-lanjutannya.

Nah, bagi yang suka mengoleksi dan membaca buku kumpulan cerpen, menurut saya 'Jakarta Kafe' harus ada di rak buku kamu. Sebuah pengalaman baca yang baru dan seru! :)

2 comments:

  1. Waaaah, sama-sama, Mbak Tatyana! :)

    ReplyDelete