Showing posts with label Kumpulan Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Cerpen. Show all posts

Wednesday, October 7, 2015

Review: Zombies VS Unicorns - Holly Black & Justine Larbalestier

Title: Zombies VS Unicorns 
Author: Holly Black & Justine Larbalestier 
Publisher: Saga Press 
Pages: 415 pages 
Published Year : 2015 
Rating: 3.5/5
Paperback Synopsis:
It's a question as old as time itself: which is better, the zombie or the unicorn? In this anthology, edited by Holly Black and Justine Larbalestier (unicorn and zombie, respectively), strong arguments are made for both sides in the form of short stories. Half of the stories portray the strengths--for good and evil--of unicorns and half show the good (and really, really bad-ass) side of zombies. Contributors include many bestselling teen authors, including Cassandra Clare, Libba Bray, Maureen Johnson, Meg Cabot, Scott Westerfeld, and Margo Lanagan. This anthology will have everyone asking: Team Zombie or Team Unicorn?

.....

The book was started with a unicorn story called The Highest Justice by Garth Nix. The story was set in the medieval era and there was something about it that made me think about the zombie instead. At some point I even forgot if it was supposed to be a unicorn story or a zombie story. And because this was the first story of the book, I somehow lost my interest to continue reading. I was afraid I would not enjoy the book. But thank God the next story titled Love Will Tear Us Apart by Alaya Dawn Johnson hooked me back with its Twilight-esque story, except it was about zombie. We—well, I—had always thought that zombies were rude, disgusting, and mean. But this story gave me new perspectives about zombies. I got to know their feelings better, how it felt when they fell in love. And the descriptions of zombie virus as a psychophatic disorder were awesome. I loved the “I-love-you-but-I-also-want-to-eat-you” kinda thing.

Of course not all the stories got me hooked. This time, another one of my favorites was from the unicorn side. It was titled Purity Test and written by Naomi Novik. The story revolved around the unicorn/virgin mythology but the writer approached it in such a funny way. The Care and Feeding of Your Baby Killer Unicorn by Diana Peterfreund also made me re-think about the image of unicorns I had known before, because apparently not all unicorns were kind. They also had this wild instinct to hunt human but still I couldn’t make myself hate them. The third and also the last unicorn story that became my favorite was Meg Cabot’s Princess Prettypants. See, the thing is, we’ve always known unicorn as this soft, beautiful creature who brings happiness with its colorful horn. But, what if one showed up on your doorstep? Would you still let it come into your house? Would you turn it away? Or would you use its magical ability to intimidate your ex-boyfriend? Meg Cabot really knew how to create such a cute and funny unicorn story.

Right before I read this book, though, I was so assured that I was more into unicorns rather than zombies. I was also very convinced that this book would only make me love unicorns more. But boy was I wrong. Of all 12 stories, my favorites consist of 3 unicorn stories and 4 zombie stories. LOOK WHO’S TEAM ZOMBIE NOW! Besides Love Will Tear Us Apart that I have mentioned before, my personal favorites from zombie stories were: Carrie Ryan’s Bougainvillea, it was about the zombie apocalypse and the twist at the end of the story really caught me off guard. It was just very angsty; Maureen Johnson’s The Children of the Revolution, a satire about celebrity-adopted children who were “saved” from death by zombie virus; and Cassandra Clare’s Cold Hands that talked about the sweet side of zombie’s love story. And the zombies in this story were not the brain-eater types, just “dead” people who returned from grave seeking out the company of their loved ones.

There were stories who shined more than the others, which I think was usual for a short stories compilation. But zombie stories just felt more intriguing for me, although the unicorn stories had some humor that the zombie stories did not have. So, yeah. Based on this book, I think I am team zombie. And also team editors because their introductions were—hands down—the best.

P.S: I got this book for free because Periplus gave it to me and they asked me to write the review. They also posted this review first on her website, whick you can find it here. But they allowed me to post it on this blog too.

Saturday, June 15, 2013

Review: Jakarta Kafe - Tatyana

Judul: Jakarta kafe
Penulis: Tatyana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 294 halaman
Tahun Terbit: 2013
Rating: 3,5/5
Paperback Synopsis:
Jakarta, dalam cerita-cerita ini, adalah ceruk yang tenang tapi gersang, berisik tapi sunyi, gemerlap tapi muram. jakarta seperti musik jazz: serbaada dan menawarkan segala kemungkinan. Paradoks-paradoks itu bisa hadir sendiri-sendiri, tumpang tindih, atau berombongan sekaligus sehingga sulit menyebut apa warna jakarta sesungguhnya. Sebutlah sesuatu, itulah Jakarta.

Kisah yang berkesan ternyata tak perlu datang dari gagasan besar, imajinasi aneh-aneh. Tapi pengrajin yang baik akan memulas bonggol tak berguna menjadi patung yang dahsyat. Tergantung bagaimana keunikan dibentuk dengan jalinan yang bernas. Jakarta Kafe telah melakukannya.

.....

Saya suka terhadap hal-hal yang simpel nan cantik. Bagi saya, less is more. Hal itulah yang menurut saya ada dalam sampul buku 'Jakarta Kafe' dan menjadi salah satu alasan mengapa saya tertarik untuk membeli dan membacanya, sejak saya tidak tau, belum pernah dengar sama sekali dengan yang namanya Tatyana. So, yes, sometimes I do judge a book by its cover.

'Jakarta Kafe' merupakan sebuah buku dengan 25 cerita pendek di dalamnya. Awalnya, saya mengira kalau semua cerpen dalam buku ini akan ber-setting di sebuah kafe yang sama. Dan entah kenapa saya selalu suka cerita-cerita dengan kafe sebagai latar tempatnya. Jadi, bisa dikatakan, perkiraan saya itulah yang menjadi alasan kedua mengapa saya memutuskan untuk membeli dan membaca buku ini. Namun, ternyata saya salah. Memang ada beberapa cerpen yang latar tempatnya berada di kafe, tapi tidak semua dan tidak di satu kafe yang sama. But, hey, bukan lantas berarti saya merasa kecewa berat dan nggak mau membaca buku ini. Malahan, saya menikmati banget lho bacanya!

Buku ini diawali dengan cerpen berjudul 'Seafood', bercerita tentang seorang wanita berkeluarga yang "diajak" berselingkuh oleh salah seorang rekan kerjanya - dan diakhiri dengan 'Perempuan yang Tidak Suka Bulan Maret', bercerita tentang seorang wanita yang membenci bulan Maret karena sang suami meninggal pada bulan tersebut. Sedangkan, judul buku sendiri diambil dari cerpen dengan judul yang sama; bercerita tentang seorang pria yang terpaksa harus berdesak-desakkan di dalam bus setelah mengantar anaknya bersekolah.

Ketika pertama kali selesai membaca cerpen dalam buku ini, sejujurnya saya sempat mengerutkan kening karena rasanya ceritanya belum selesai. Menggantung. Unsolved. Tapi, setelah membaca cerpen demi cerpen, ternyata ya memang hampir semuanya begitu. Singkatnya, cerpen-cerpen dalam buku ini kayak potongan-potongan kisah kehidupan sehari-hari yang ada di sekitar kita. Mungkin itulah kenapa ketika membacanya, saya rasanya kayak lagi duduk sendirian di sebuah coffee shop, menyeduh kopi, sambil memerhatikan orang-orang di sekitar saya, dan diam-diam sok-sokan "membaca" kehidupan macam apa yang dijalani orang-orang itu.

Umumnya, cerpen-cerpen dalam buku ini bercerita tentang kehidupan orang dewasa; relationship, keluarga, kerja keras, perjuangan, kehidupan sosial, dan sebagainya. Nah, seperti kebanyakan buku kumpulan cerpen lain, tentu ada beberapa cerpen yang menarik perhatian dan beberapa lain yang "lewat" begitu saja. Secara pribadi, saya suka dengan 'Prancis', 'Reuni', 'Java Jive', 'Paycheck', 'Days of Wine and Roses' dan 'Peter Pan'. Bukannya lantas saya nggak suka dengan cerpen-cerpen lain, hanya aja... you know, kurang begitu ngena bagi saya. But, still, saya suka dengan gaya menulis dan bercerita Tatyana yang menurut saya cenderung puitis tapi ringan, renyah, mengalir gitu aja meskipun kadang saya agak gondok juga ketika baca beberapa cerpen yang diakhiri-gitu-aja-padahal-saya-pengen-baca-lanjutannya.

Nah, bagi yang suka mengoleksi dan membaca buku kumpulan cerpen, menurut saya 'Jakarta Kafe' harus ada di rak buku kamu. Sebuah pengalaman baca yang baru dan seru! :)

Tuesday, November 27, 2012

Review: Kukila - M. Aan Mansyur

Judul: Kukila
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 3,5/5
Paperback Synopsis:
Nak, dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada.Batang pohon mangga tetap selutut persis prasasti batu. Ia berdiri mengekalkan dosa-dosa—dan dosa adalah pemimpin yang baik bagi penyesalan-penyesalan.

Kukila adalah perempuan itu, yang membenci September dan pohon mangga. Hidupnya didera rasa bersalah yang besar, kepada mantan suaminya, mantan kekasihnya, dan anak-anaknya. Kepada suratlah dia berbicara dan kepada pohon-pohonlah dia menyembunyikan masa lalu, karena rahasia, konon, akan hidup aman dalam batang-batang pohon.

Selain “Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)”, di dalam buku ini ada dua belas cerita pendek lain, dikisahkan dalam kata-kata Aan Mansyur yang manis, bersahaja, kadang sedikit menggoda.

.....

M. Aan Mansyur menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang membuat timeline Twitter saya terlihat lebih indah dan menarik dengan kata-kata yang ditulisnya melalui akun @hurufkecil. Maka ketika saya tahu bahwa Aan menulis buku kumpulan cerpen berjudul "Kukila", saya cukup excited. Judul yang cantik, begitu pikir saya saat itu. Dan kini, setelah saya selesai membaca buku ini, ternyata nggak hanya judul - dan cover-nya - saja yang cantik, tapi juga isinya! Bedanya, jenis cantik dalam tulisan di buku ini merupakan cantik yang agak nakal. Genit. Dan... ya, sedikit menggoda.

Kata-kata yang digunakan oleh Aan terasa hidup. Gaya bahasanya cenderung formal dan puitis, namun nggak membuat saya kesusahan untuk memahami setiap ceritanya kok. Malahan, saya justru menikmatinya karena setiap cerita terasa begitu mengalir meskipun memang ada satu atau dua cerpen yang kurang berkesan bagi saya. Tapi saya harus kasih applause atas kemampuan Aan dalam menciptakan twist di beberapa cerpen yang sempat bikin saya bengong sesaat ketika selesai membacanya, seperti dalam cerpen berjudul "Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi" yang menjadi salah satu favorit saya selain "Membunuh Mini", "Aku Selalu Bangun Lebih Pagi", dan "Lima Pertanyaan Perihal Bakso". Oh ya, ada juga cerpen yang sebelumnya sudah pernah muncul di buku kumpulan cerpen "Perempuan yang Melukis Wajah", yaitu "Hujan. Deras Sekali.".

Sedangkan judul buku sendiri diambil dari cerpen dengan judul yang sama; "Kukila". Sebuah cerita yang tidak pendek, sebenarnya. Dan entah kenapa cerita ini kurang nancep di hati saya, padahal harus saya akui bahwa permainan alurnya keren, bikin saya harus benar-benar konsentrasi ketika membacanya agar paham dengan cerita yang disampaikan. Nah, saya termasuk orang yang kurang suka menaruh konsentrasi terlalu dalam ketika membaca karena takut cepat bosan. Hebatnya, saya nggak mengalami tuh yang namanya bosan selama membaca "Kukila" - maupun cerpen-cerpen lainnya. But, still, cerpen "Kukila" kurang membekas buat saya. Maaf ya, Aan...

Pada akhirnya, menurut saya, "Kukila" merupakan sebuah buku yang well-written. Cocok banget dibaca di sore hari menjelang senja, di beranda rumah. Good job, Aan! Saya request novel untuk buku yang ditulis selanjutnya, ya! ;)

Saturday, September 15, 2012

Review: The Not So Amazing Life of @aMrazing - Alexander Thian

Judul: The Not So Amazing Life of @aMrazing
Penulis: Alexander Thian
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 228 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 4/5
Paperback Synopsis:
Bapak itu merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan bergepok-gepok uang. 

"Nih! Sekian belas juta!" 

Bahkan setelah menghitung sekian belas juta, sisa uang di tangan Bapak itu masih banyak. Fakta bahwa bajunya lusuh, serta handphone lamanya buluk segera terlupakan. Rupanya Bapak ini orang tajir yang tak tahu cara berdandan serta belum melek teknologi. Gue lagi-lagi salah menilai. Terkadang manusia memang hanya memandang penampilan luar. Menghakimi bahwa sebuah buku pasti jelek isinya hanya karena cover yang buruk. 

Berlama-lama si Bapak mengagumi handphone terbarunya. Setelah puas, ia kembali bertanya hal yang paling penting.

"Dek, gimana cara main Fesbuk? Terus, internet itu apa, sih?"

.....

'The Not So Amazing Life of @aMrazing' (TNSALOA) merupakan buku solo perdana Alexander Thian, berisi tentang kumpulan kisahnya saat masih bekerja menjadi seorang penjaga konter handphone di sebuah mal di bilangan Jakarta Selatan. Lah, apa hubungannya @aMrazing sama Alexander Thian? Bagi yang doyan main Twitter, kemungkinan besar pasti tau, deh, kalau @aMrazing merupakan nama akun Twitter milik Alex. Saya sendiri udah follow Alex sejak kurang-lebih dua tahun lalu dan belum pernah sekali pun terbersit keinginan untuk pencet tombol unfollow. Saya bahkan sering scrolling timeline Twitter Alex sebelum tidur, saking seru dan banyak banget hal yang bisa saya temuin di sana. :p

Sebenarnya nama Alex sudah pernah muncul di buku The Journeys dan Cerita Sahabat sebagai salah satu penulisnya. Dan saya suka dengan gaya menulisnya yang ringan, ceplas-ceplos, dan begitu menyenangkan. Makanya, ketika suatu hari Alex nge-twit bahwa dia mau merilis buku perdananya, saya cukup excited. Dan kini, setelah saya selesai membaca TNSALOA, saya harus bilang bahwa judul yang dipilih kurang pas, karena menurut saya hidupnya Alex - dan buku ini - tuh amazing banget!

Gaya Alex bercerita tentang pengalaman-pengalamannya selama menjadi penjaga konter handphone bikin saya hanyut dalam kisahnya; dari mulai ikutan sebel, ketawa-ketawa, sampai ngerasa terharu. Tapi, yang paling saya suka adalah bagaimana kisah-kisah Alex bisa "menyentil" dan menyadarkan saya tentang hal-hal penting yang sering luput dari perhatian. Hebatnya, tulisan Alex lantas nggak terkesan menggurui. Selama membaca TNSALOA, saya malah ngerasa kayak lagi dengerin temen yang curhat. Salah satu kisah yang cukup membekas bagi saya adalah 'Don't Judge the Heart by the Look', bercerita tentang bagaimana salah satu pelanggan di konter handphone Alex membuatnya sadar bahwa ada mata lain yang harus dilibatkan dalam melihat segala hal, yakni mata hati.

Sayangnya, menurut saya halamannya kurang tebel, nih. Ceritanya kurang banyak, padahal Alex berhasil membuat buku yang ringan, menghibur, namun sarat makna. Good job, Alex! Saya nunggu buku-buku selanjutnya, ya! ;)

Monday, September 10, 2012

Review: Taste Buds - Yunus Kuntawi Aji & Kinsia Eyusa Merry

Judul: Taste Buds
Penulis: Yunus Kuntawi Aji & Kinsia Eyusa Merry
Penerbit: PT WahyuMedia
Tebal: 170 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 3,5/5
Paperback Synopsis:
―HEADLINE―
Radityo, wartawan tercepat dalam melaporkan kasus pembunuhan. Rekor tercepatnya adalah sepuluh detik. Tepat setelah sang pembunuh melibas leher korban, ia berada di sana. Saat itu, ia melihat pembunuhnya lari sambil membawa harta benda korban.

Motif standar pembunuhan adalan masalah ekonomi. Tugasnya sebagai wartawan adalah meliput kasus pembunuhan. Ia justru berharap korban segera mati meskipun meronta-ronta meminta diselamatkan olehnya.

―JENUH―
"Oh tidak, tidak. Manda, kayaknya kita mulai garing deh pake bahasa kayak gini, hahaha. Ehem, oke.

Keinginan saya adalah sekiranya Anda tidak keberatan, apakah Anda bersedia bangun pagi melihat saya lagi? Makan pagi bersama saya lagi. Pulang kantor yang nongol muka saya lagi. Shalat berjamaah imamnya saya lagi. Menerima kado ulang tahun dari saya lagi. Mengurus anak bersama saya lagi. Memasak bersama chef andal, yaitu saya lagi. Sampai tua, duduk di kursi goyang, ditemani saya lagi. Saya lagi dan saya lagi."
.....

'Taste Buds' merupakan sebuah buku 26 kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Yunus Kuntawi Aji dan Kinsi Eyusa Merry. Bagi yang sering dan doyan berkelana di dunia Tumblr, kemungkinan besar pasti udah nggak asing lagi dengan mereka berdua yang, menurut saya, bisa dibilang sebagai seleb Tumblr Indonesia. :p Dari sekian banyak orang yang follow Tumblr mereka, bisa dibilang saya ini merupakan silent reader, alias nggak pernah mengirim message atau ikutan ngasih komentar di postingan mereka. Sejujurnya saya bahkan follow akun Tumblr mereka baru-baru ini meskipun sebelumnya sudah cukup sering mampir di akun mereka. *ketahuan kepo-nya* Hehehe.

Sebelumnya saya sudah pernah baca tulisan Kinsy dalam beberapa cerita pendeknya, dan saya suka dengan gaya menulisnya yang ringan dan kasual. Sebaliknya, walaupun belum pernah baca tulisan Yunus, tapi dari caranya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke Tumblr-nya, gaya menulisnya terkesan lebih kaku, formal, dan puitis. Makanya, saya cukup penasaran dan excited ketika tau bahwa mereka berkolaborasi untuk membuat buku.

Dan ternyata apa yang ditulis di cover ini bener, lho, bahwa 'Taste Buds' merupakan suatu buku 'kumpulan cerita pengaduk rasa'. Buku ini diawali dengan cerpen berjudul 'Headline" yang ditulis oleh Yunus, dilanjutkan oleh tulisan Kinsy berjudul 'Oalaaah, Anak Ini...', lalu tulisan Yunus lagi, dan terus bergantian seperti itu hingga cerpen terakhir Kinsy yang berjudul 'Raca' menjadi penutup buku ini. Nah, hal tersebut lah yang membuat saya ngerasa kayak lagi naik mobil di jalan yang nggak rata. Semacam terombang-ambing - but in a good way! Setelah serius membaca cerpen-cerpen Yunus yang terkesan lebih berat (sering muncul twist!), dark, dan bahkan ada pula yang ber-genre thriller, saya seolah diajak meng-cooling down-kan diri dengan cerpen-cerpen Kinsy yang lebih simpel dan sering bikin senyum-senyum sendiri saking sweet-nya.

Saya juga suka dengan pesan-pesan tersirat yang muncul dalam cerpen-cerpen di buku ini, tentang hal-hal kecil di sekitar kita yang mungkin luput dari perhatian dan patut untuk direnungkan, seperti dalam cerpen Yunus berjudul 'Semoga Ini Bukanlah Tulisan yang Tergesa-Gesa'. Cerpen yang menjadi salah satu cerita favorit saya tersebut seolah ingin menyadarkan bahwa, tanpa sadar, sebenarnya kita hidup di dunia yang serba tergesa-gesa. Maunya, kalau bisa, yang instan aja.

Atau bisa juga dalam salah satu cerpen Kinsy favorit saya berjudul 'Bangga', menceritakan tentang bagaimana rasa sayang seorang anak terhadap sang ayah. Selain dua judul tersebut, beberapa cerpen yang menjadi favorit saya adalah 'Headline', 'Jenuh', 'Pasangan yang Sempura', 'Percayalah, Cerita Ini Pun Sebuah Karya Fiksi!', 'Bertanya', 'One Letter of Dull', 'Pagar', 'Siapa yang Gila?', ' Dabria Clarina', dan 'Raca'.

Well, menurut saya, buku ini cukup unik karena dua gaya penulisan yang sama sekali berbeda. Kalau misalkan buku ini hanya ditulis oleh Yunus atau Kinsy aja, saya nggak yakin efek membacanya bakal sama. But, still, 'Taste Buds' is very worth to read, terutama bagi yang ingin mendapatkan pengalaman baru dalam membaca. Oh ya, yang mau baca berbagai tulisan mereka yang lain, bisa ke akun Tumblr-nya Kinsy atau punya Yunus. Happy reading!

Thursday, August 2, 2012

Review: Perempuan yang Melukis Wajah - 8 Penutur Hujan

Judul: Perempuan yang Melukis Wajah
Penulis: Ainun Chomsun, Fajar Nugros, Hanny
Kusumawati, Karmin Winarta, M. Aan Mansyur,
Mumu Aloha, Ndoro Kakung, Wisnu Nugroho.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 176 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 3,5/5
Paperback Synopsis:
Alangkah banyak cerita yang dapat disampaikan rinai hujan.

Kisah tentang kekasih, perjumpaan, kehangatan. Seorang pengelana yang bertemu belahan jiwanya di bandara perhentian yang ramai. Kekasih yang berbagi kehangatan kala hujan deras mengetuk kaca jendela di luar.

Namun, ada pula cerita tentang perpisahan, kerinduan, dan kenangan. Seorang anak lelaki yang merindukan ibunya setiap kali hujan turun. Sahabat yang merelakan kekasihnya menempuh hidup baru. Seorang perempuan yang mengenang lelakinya dalam lukisan.

Di buku ini terhimpun sebelas cerita cinta dari delapan penulis. Pilihlah tempat untuk membaca. Siapkan secangkir kopi. Mulailah dari halaman mana saja. Dan bila kau mau menajamkan telinga, sayup-sayup akan terdengar derai halus hujan di latar belakang.

Selamat membaca.
.....

'Perempuan yang Melukis Wajah' merupakan buku kompilasi cerpen hasil dari tulisan karya @pasarsapi, @captainugros, @beradadisini, @fanabis, @hurufkecil, @mumualoha, @ndorokakung, dan @beginu. Ada sebelas cerita pendek dalam buku ini dan semuanya memiliki satu benang merah, yakni hujan. Sayangnya, ini mungkin saya aja yang error, tapi entah kenapa saya kurang bisa "nangkep" nuansa hujan-nya. Bahkan, kalau nggak ada kata 'hujan' di sampul buku, saya mungkin nggak bakalan sadar kalau benang merah dalam buku ini adalah hujan.

But, hey, that doesn't mean I couldn't enjoy this book. In fact, I like it!

Seluruh cerpen yang ada dalam buku ini membentuk suatu harmoni yang cukup apik, membuat buku ini pas banget dibaca di malam hari, sambil minum teh hangat, dan bergelung dalam selimut tebal! Meskipun ada satu-dua cerita pendek yang kurang menimbulkan kesan mendalam, namun hal tersebut nggak mengurangi kenikmatan saya dalam membaca buku ini kok. Dan yang cukup menarik perhatian saya adalah Hanny Kusumawati. Ia menyumbang cerpen dengan jumlah paling banyak--tiga buah--dan ketiganya langsung jadi favorit saya: 'Humsafar', 'Enam Jam', dan 'Yang Tertinggal'.

Judul buku sendiri diambil dari karya Karmin Winarta, bercerita tentang seorang wanita yang begitu mencintai pria pasangannya. Oh ya, saya juga suka dengan lay-out 'Perempuan yang Melukis Wajah' ini. Pas. Yang kurang adalah jumlah halamannya. Seandainya aja para penulis mengontribusikan lebih banyak karyanya. But, in the end, what matters is how you can get such a good personal experience from reading a book, right? Karena, bagi saya, membaca buku ini efeknya sama seperti ketika saya selesai mendengarkan album Battle Studies-nya John Mayer; rasanya kayak jatuh cinta, patah hati, lalu diselamatkan. Dan siklus itu terus berulang tiap saya membaca cerita pendek baru.

Monday, July 30, 2012

Review: Sekeping Tanda - Andi Wirambara

Judul: Sekeping Tanda
Penulis: Andi Wirambara
Penerbit: Indie Book Corner
Tebal: 164 halaman
Tahun terbit: 2011
Rating: 4/5
Sinopsis:
"Katanya, dulu ada gadis SMA yang senang nonton ke bioskop. Dia semata wayang, mungkin karena itu orang tuanya jadi over protektif padanya. Khawatir dengan nilai dan pergaulannya jika suka keluar menonton. Orang tuanya melarangnya pergi ke bioskop. Tapi gadis ini sering kabur dan mencuri kesempatan menonton. Hingga akhirnya orang tuanya tahu, marah besar dan ia kabur. Namun ia ditabrak mobil sewaktu menyebrang jalan dan tewas. Konon, ia suka menampakkan diri di bangku belakang bioskop-bioskop. Entah kenapa," Nada justru bercerita.

"Lalu, buat apa kamu cerita?" Pikiranku sudah kemana-mana, mengkait-kaitkan logika dengan tiap prakiraanku terhadapnya. Ia tersenyum lagi, tak menjawab. 

.....

Sejujurnya, saya kurang begitu suka baca buku kumpulan cerpen. Cerita pendek, saya suka. Tapi buku kumpulan cerita pendek? Nggak tau kenapa saya kurang tertarik. Buku kumpulan cerpen atau fiksi yang saya punya cuma yang karangannya Sitta Karina dan Dewi Lestari aja. Tapi, pas ke Gramedia Tunjungan Plaza hari Sabtu lalu, saya lihat buku ini. Awalnya saya kira itu novel, makanya saya tertarik untuk membawanya ke kasir lalu menukarkannya dengan sejumlah uang.

Begitu saya buka, saya ngerasa agak kecewa karena ternyata buku ini merupakan sebuah kumpulan cerita pendek. Tapi... akhirnya saya malah jadi suka. Banget.

Buku berjudul 'Sekeping Tanda' yang berisi lima belas cerita pendek ini merupakan karya dari Andi Muhammad Era Wirambara. Diawali dengan 'Nalia' yang berkisah tentang perjuangan mendapatkan cinta seseorang dengan menggunakan analogi medali, dan diakhiri dengan 'Di Antara Hujan Lalu', sebuah kisah tentang seorang cowok yang mendadak teringat dengan perjalanan hatinya di masa lalu, padahal saat itu ia sedang berantem dengan sang pacar.

Kisah favorit saya adalah Patung Taman, Bangku Belakang Bioskop, Puisi - Mati, Di Antara Hujan Lalu--ah saya suka hampir semuanya! Saya suka gaya bahasa dan diksi yang dipilih Bara dalam cerpen-cerpennya. Puitis. Manis. Romantis. Ide-idenya juga sederhana namun dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi luar biasa dan penuh kejutan. Semua cerpen dalam buku ini mengandung unsur cecintaan, tapi nggak semua berakhir manis, ada pula yang tragis dan bernuansa dark seperti 'Desing' dan 'Puisi - Mati'. Selain itu, dalam beberapa cerpennya, diselipkan puisi-puisi yang menurut saya cantik. Menarik.

Sayangnya, di dalam beberapa halaman, ada tulisan yang cetakannya kurang jelas, seperti dipaksa cetak padahal tintanya habis. Cukup mengganggu, sih, tapi nggak mengurangi rasa exciting saya untuk terus membaca buku ini hingga halaman terakhir. Beneran deh, buku ini layak banget dibaca. Selalu ada lesson learned di setiap cerpennya. Good job untuk Bara! Semoga nggak ada lagi hal-hal teknis mengganggu di cetakan selanjutnya. Saya nunggu karya kamu selanjutnya!

Dan, pada akhirnya, buku kumpulan cerita pendek saya bertambah. Saya sama sekali nggak menyesal sudah membeli dan membaca buku ini.