Showing posts with label Teenlit. Show all posts
Showing posts with label Teenlit. Show all posts

Monday, July 13, 2015

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 - Pidi Baiq

Judul: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Books
Tebal: 344 halaman
Tahun Terbit: 2015
Rating: 3.5/5
Paperback Quotes:
"Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap."
-Milea

"Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama."
-Dilan

.....

I honestly have mixed feelings about this book.

Para fans Dilan pasti tau kalau buku “Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991” ini merupakan sekuel dari “Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990”—yang pernah saya tulis review-nya di sini. Cerita dari buku kedua ini dimulai pas dari ending buku pertama, yaitu ketika Milea resmi berpacaran dengan Dilan. Tidak cukup hanya secara lisan, mereka juga menyatakannya di atas kertas bermaterai. Untuk dokumen perasaan, kata Dilan. Nah, setelah “peresmian” hubungan mereka di warung Bi Eem, Dilan pun mengantar Milea pulang menggunakan sepeda motornya. Adegan boncengan naik motor berdua ini, yang tentu aja terjadi nggak hanya sekali, menjadi salah satu hal favorit saya dari buku kedua ini, karena percakapan absurd nan manis khas Dilan-Milea seringnya terjadi di atas motor!

"'Aku bisa menyihir kamu jadi tambah erat meluknya,' katanya.
'Gak usah disuruuuh…,' kataku berseru bagai bisa menembus suara hujan.
'Kenapa?' tanya Dilan.
'Bisa sendiriiiiii!!!'"

HAHAHAHAH sumpah ya, adegan-adegan macam begitu tuh yang suka bikin saya nyeletuk, “Sa ae lu, Dilan.” :)) Tapi, tentu aja hubungan Dilan dan Milea nggak selamanya manis begitu. Kang Adi, guru les privat Milea di buku pertama, masih saja berusaha untuk PDKT dengan Milea. Belum lagi ada tokoh baru bernama Yugo, saudara jauh Milea, yang ternyata juga menyukai gadis itu. Well, sejujurnya saya kurang bisa membayangkan cantiknya Milea itu seperti apa, tapi kayaknya cantik buanget, kok sampai seorang calon guru magang di sekolahnya pun ikutan naksir. Namun, masalah terbesar yang muncul dalam hubungan Dilan dan Milea bukan berasal dari fans Milea—justru Dilan lah sumbernya! Masih ingat, kan, kalau Dilan itu ikutan geng motor? Berulang kali Milea menegur Dilan bahwa ia nggak suka kalau Dilan bergabung dengan geng motor, karena Dilan jadi doyan berantem dan ujung-ujungnya membuat Milea khawatir. Awalnya, jujur aja saya menganggap sepele masalah ini karena saya pikir, “Ah, pasti ntar Dilan juga nurut. Dilan kan sayang banget sama Milea.” LAH KOK MALAH NGGAK SELESAI-SELESAI WTF?! Yang jelas, masalah Dilan dan geng motor ini berpengaruh banget ke ending bukunya yang—sumpah!—bikin sedih banget. Padahal saya udah kena spoiler endingnya bahkan sebelum beli bukunya, tapi tetep aja ngerasa nyesek pas selesai baca. Kalau buku pertama bikin perasaan saya berbunga-bunga, buku kedua ini sukses bikin saya patah hati. Siap-siap aja.

Sama seperti buku pertama, buku kedua ini juga ditulis dari sudut pandang Milea. Jadi sebetulnya seluruh kisahnya dengan Dilan di tahun 1990 dan 1991 merupakan flashback, sedangkan Milea masa kini berada di tahun 2015. Pada bagian awal buku kedua ini, Milea juga sedikit menceritakan kembali kisahnya dengan Dilan di buku pertama, kayak semacam perkenalan singkat. Di satu sisi, hal tersebut dapat membantu mereka yang nggak membaca buku pertama untuk bisa tetap nyambung dan menikmati kisah Dilan dan Milea di buku kedua ini. Di sisi lain, para pembaca yang mengikuti dari buku pertama bisa saja bosan dan merasa bahwa hal tersebut malah bersifat repetitif. Kalau saya sendiri sih nggak merasa terganggu, justru senang karena bisa sedikit nostalgia dengan zaman PDKT Dilan dan Milea. EHEHEHEHE.

YA GIMANA KAN, justru cara PDKT-nya Dilan di buku pertama itu yang bikin saya jatuh cinta banget sama dia. Bener-bener yang jatuh cinta head over heels karena bagi saya Dilan itu karismatik. Sayangnya, di buku kedua ini, karisma itu seolah hilang. Nggak hilang, sih, tapi agak mengabur. Mungkin karena frekuensi kemunculan si Dilan nggak sebanyak di buku pertama, selain karena karakternya yang memang menurut saya jadi melemah justru ketika konfliknya lebih berkembang. Tapi, tenang aja, Dilan masih unik, kok, masih doyan ngegombalin Milea, pemikirannya masih nyeleneh tapi masuk akal, masih suka bicara hal-hal absurd, masih sesekali nulis puisi. Saya suka juga dengan hubungan Dilan dan Bunda yang kayaknya asik banget. 

"'Dia itu diam, bukan karena baik.'
‘Karena apa?’
'Karena, gak berani. Karena, takut. Gak siap dimarahin.'
Aku diam.
'Harusnya, dia juga dimarah karena penakut. Dunia butuh orang pemberani. Yes?'
Aku diam.
'Kamu pikir bandel itu gampang? Susah. Harus tanggung jawab sama yang dia udah perbuat,' kata Dilan lagi."

"'Gimana, ya?' Dilan bagai mikir. 'Dulu, waktu kecil,' Dilan mengenang. 'Aku nyuruh Disa ngambil tas di kamar. Terus, si Bunda bilang, jangan nyuruh-nyuruh, katanya, kerjain sendiri.'
'Itu, sih, negur, bukan marah.'
'Iya. Nah, waktu si Bunda nyuruh aku shalat, aku jawab aja: Bunda, jangan nyuruh-nyuruh! Kerjain sendiri.'"

HAHAHAHAH kampret emang si Dilan. Tapi saya suka dengan Bunda yang juga dekat dengan Milea, bikin pengin punya mertua kayak Bunda yang pengertian banget. Sayangnya, karakter Milea seolah-olah "mengikuti" melemahnya karakter Dilan. Tentu aja ia masih cantik dan pintar, tapi ada saat-saat di mana saya mengerutkan kening dan berpikir, "Kok Milea gini, sih?" Saya ngerasa dia jadi lebih.... drama. Ada beberapa sikapnya terhadap kejadian-kejadian tertentu yang menurut saya terlalu berlebihan. Kayak pas Yugo dan Ibunya datang ke rumah Milea untuk meminta maaf atas tindakan buruk yang dilakukan Yugo terhadap Milea. Lalu tiba-tiba Dilan datang dan Milea langsung aja menggaet Dilan ke tengah-tengah ruang tamu, yang saat itu di sana juga ada Ayah dan Ibu Milea. Nggak hanya memperkenalkan Dilan, Milea juga dengan lantang bilang bahwa Dilan adalah pelindungnya, bahwa Dilan membela dirinya hingga terluka. Ya, saya tau kamu bangga dengan Dilan, Milea, tapi nggak usah segitunya juga. Yang jelas saya ngerasa bahwa Milea jadi lebih emosional di buku kedua ini.

Mengenai ending, sejak selesai baca buku pertama dan tau bahwa kisah Dilan memiliki sekuel, sejujurnya saya udah menduga bahwa akhir cerita Dilan dan Milea bakal seperti itu. Setelah itu saya juga kena spoiler di Twitter—yang ternyata bener sesuai dugaan saya. TAPI YA TETEP NGGAK TERIMA DAN SEDIH BANGET AJA GITU PAS SELESAI BACA. Saya beli buku kedua ini tanggal 9 Juli lalu, bareng temen saya yang dulu juga baca buku pertamanya. Malemnya, saya ngebut baca karena nggak sabar banget pengin tau lanjutan cerita Dilan dan Milea. Besoknya, pas akhirnya selesai baca, saya mewek sendirian karena teman saya masih separuh jalan bacanya. Begitu dia selesai, dia langsung kirim chat ke saya, marah-marah pake capslock, katanya nggak bisa move on. I think it was her first ever book hangover she's ever experienced. :)) Saya sendiri bahkan belum sanggup mau baca buku yang lain, masih kebayang-bayang Dilan dan Milea—terutama Dilan. Mungkin setelah ini saya mau baca ulang buku Dilan yang pertama, mau menetralisir perasaan biar nggak terlalu patah hati.

P.S: Denger-denger Pidi Baiq mau menulis kisah Dilan dan Milea dari sudut pandang Dilan. SEMOGA ITU BENER, YA! Aamiin? Aamiin!

Wednesday, August 13, 2014

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 - Pidi Baiq

Judul: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: DAR! Mizan
Tebal: 332 halaman
Tahun Terbit: 2014
Rating: 4/5
Paperback Quotes:
"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Dilan 1990)

.....

"Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" merupakan karya Pidi Baiq yang pertama kali saya baca, jadi saya berusaha untuk nggak menaruh ekspektasi apa-apa. Sejujurnya, saya beli novel ini secara random, cuma berdasarkan cover dan sinopsis. Well, buku ini bahkan nggak ada sinopsisnya, tapi quotes dan testimoni yang ada di bagian belakang buku cukup untuk membuat saya membawa buku ini ke meja kasir (meskipun sebelumnya sempat browsing dulu di Goodreads untuk tahu average rating-nya :p). Cerita dari "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" ini sederhana, yakni tentang Dilan, seorang siswa SMA Negeri di Bandung yang jatuh cinta dengan siswi baru pindahan dari Jakarta; Milea. Tidak mengetahui bahwa sebetulnya Milea telah memiliki pacar di ibu kota, Dilan pun melakukan berbagai usaha untuk mendekati Milea.

Novel ini bisa dibilang merupakan teenlit. Hanya saja, setting-nya pada tahun 1990, saat masih banyak pohon berdiri, jalanan masih sepi, dan pusat-pusat perbelanjaan belum banyak berdiri, membuat Bandung—seperti yang dideskripsikan pada novel—terasa begitu romantis. Belum lagi masih terbatasnya penggunaan ponsel dan internet, jadi nggak ada yang namanya drama-drama ala cewek cheerleader penguasa sekolah dan cewek cupu yang ditaksir cowok populer (well, I used to read this kind of teenlit and guess what, I enjoyed it. :p). Hei, tapi bukan berarti karena nggak ada drama semacam itu, lantas cerita dari novel ini jadi nggak asik. Novel "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" memang memiliki narasi yang tidak banyak, diksinya juga sederhana walaupun sedikit baku, tapi justru menurut saya, di situlah kekuatannya. Dialog-dialog yang terjadi di antara Dilan dan Milea sukses bikin saya senyum, ketawa, tertegun, dan ikutan malu sendiri—seolah-olah saya yang diajak ngobrol Dilan. Hahahaha. Belum lagi berbagai perilaku Dilan yang.... duh, bikin saya kangen pengin baca ulang.

Dilan memang unik. Nyeleneh. Ia merupakan anggota dari geng motor yang kadang ikut tawuran melawan sekolah lain. Nakal, tapi tidak brengsek. Ia tidak takut bertindak untuk sesuatu yang ia anggap benar. Karena nyeleneh itulah, cara-cara yang diambil Dilan untuk merebut hati Milea pun jadi tidak biasa dan bikin saya terenyuh. Pada hari ulang tahun Milea, misalnya, Dilan memberikan buku TTS yang telah dijawab penuh olehnya sebagai kado, karena Dilan tidak mau Milea pusing mengisinya. Atau ketika Milea sakit dan Dilan mengirim tukang pijit langganannya ke rumah Milea untuk memijit gadis pujaannya itu. Satu hal lagi yang bikin saya makin naksir sama Dilan, yakni hobi membacanya. Iya, nakal-nakal begitu, Dilan doyan membaca buku-buku sastra. Makanya, nggak heran kalau dia diam-diam suka menulis puisi, yang beberapa di antaranya ditujukan bagi Milea:
Milea 1
Bolehkah aku punya pendapat?
Ini tentang dia yang ada di bumi
Ketika Tuhan menciptakan dirinya
Kukira Dia ada maksud mau pamer
Milea awalnya merasa risih dan terganggu dengan kelakuan Dilan, apalagi ketika itu Milea sedang pacaran jarak jauh dengan Beni yang ada di Jakarta. Ia pun merasa bersalah dan bingung ketika mendapati dirinya mulai menikmati segala perlakuan nyeleneh Dilan terhadapnya. Nah, karena novel ini diceritakan dari sudut pandang Milea, secara pribadi saya cukup dapat merasakan apa yang dirasakan dan dialami Milea—termasuk ketika ia dan Dilan mulai mengobrol tentang hal-hal absurd tapi manis banget! Di sisi alin, sebagai pembaca wanita, saya jadi merasa dihargai oleh Dilan melalui perilaku dan kata-kata yang diucapkannya pada Milea.
"Lia, kalau kamu merasa tidak kuperhatikan, maaf, aku sibuk memantau lingkunganmu, barangkali ada orang mengganggumu, kuhajar dia!" 
"'Aku pernah meramal kamu nanti akan naik motorku,' kata Dilan. 'Ingat?'
'Iya.'
'Bantu aku.'
'Bantu apa?'
'Mewujudkannya.'" 
"'Nah, sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu.'
'Kenapa?' kutanya.
'Berat,' jawab Dilan. 'Kau gak akan kuat. Biar aku saja.'"
Nah, kan, GIMANA SAYA NGGAK JATUH CINTA SAMA DILAN, COBA? Sayangnya, ternyata novel ini belum selesai. Seneng, sih, masih ada lanjutannya, tapi saya udah nggak sabar nunggunya. Saya baca "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" ini aja sengaja dipelan-pelanin, nggak mau kehilangan Dilan dan segala perilaku manisnya dengan Milea, meskipun akhirnya habis dibaca juga dalam waktu sehari. Intinya, sih, novel ini nagih. Ehehehe. Semoga cepat bertemu lagi, ya, Dilan dan Milea!

Thursday, March 13, 2014

Review: Meet the Sennas - Orizuka

Judul: Meet the Sennas
Penulis: Orizuka
Penerbit: Teen@Noura
Tebal: 353 halaman
Tahun Terbit: 2014
Rating: 3.5/5
Paperback Synopsis:
Aku Daza Senna.
Anak kedua dari tiga bersaudara. Yang artinya aku anak tengah ….

Astaga. Aku menulis apa, sih?
Oke, mari coba lagi.

Aku Daza Senna.
Aku tinggal bersama orang-orang yang sama sekali tak bisa disebut normal.
Dan sialnya, orang-orang itu adalah keluargaku.

Hmm, ini sudah lebih bagus.

Siapa sih yang mau tinggal dengan orang-orang yang memberi semacam formulir pendaftaran dan serangkaian ujian kepada setiap cowok yang ingin dekat denganku? Memangnya cowok-cowok itu mau SNMPTN? Coba bayangkan penderitaanku. Belum terbayang? Berarti kalian harus bertemu dengan mereka.

.....

'Meet the Sennas' sebetulnya merupakan novel lama Orizuka yang dulunya berjudul 'Duh... Susahnya Jatuh Cinta...!'. Pertama kali terbit pada tahun 2006, novel tersebut cepat menghilang dari pasaran, sehingga kini diterbitkan kembali dengan berbagai revisi. Dan hal tersebut merupakan langkah yang tepat karena, menurut saya, judul 'Meet the Sennas' terdengar lebih catchy dan "mengundang". Saya sendiri bukan termasuk yang pernah membaca buku ini ketika masih berjudul 'Duh... Susahnya Jatuh Cinta...!', meskipun saya sudah baca karya Orizuka sejak zaman 'Me and My Prince Charming'. Jadi, yah, bisa dibilang kalau Orizuka merupakan salah satu penulis Indonesia favorit saya meskipun saya belum baca seluruh karyanya. Tapi, yang pasti, saya belum pernah merasa kecewa dengan novel-novel Orizuka yang sudah saya baca.

Seperti kebanyakan novel Orizuka yang lain, 'Meet the Sennas' mengangkat tema kehidupan anak SMA. Kali ini, tokoh utamanya seorang cewek berusia 17 tahun bernama Dazafa Senna. Ia lahir dan besar di keluarga yang menurutnya aneh dan tidak normal karena berbagai perilaku mereka. Salah satu contohnya adalah adanya keharusan bagi cowok-cowok yang dekat dengan Daza untuk mengikuti ujian dan mengisi formulir yang telah disediakan oleh Keluarga Senna. Itulah kenapa sampai umur 17 tahun begini, Daza belum pernah pacaran. Dan masalah Daza nggak berhenti sampai di situ; nilai ulangan matematikanya yang jelek ketahuan oleh sang Ayah, ditambah dengan Ujian Nasional yang semakin dekat, membuat Ayah harus memanggil guru privat bagi Daza, yakni Logan, yang juga merupakan sahabat dari kakak Daza.

Dengan aturan ketat yang dikeluarkan oleh keluarganya terkait masalah cowok, Daza jadi nggak berani berharap ada cowok yang mau mendekatinya. Maka ia cukup heran dan kagum ketika Dalas, adik kelasnya yang lucu dan cute, melakukan PDKT dengannya dan bahkan berani datang ke rumahnya untuk meladeni ujian yang diberikan keluarganya. Tetapi, Daza tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa selama ini yang ada dalam pikirannya adalah Logan--meski guru privatnya itu sering mengatainya bodoh, membentaknya, memarahinya, dan lain-lain. Daza pun akhirnya membuat kesepakatan dengan Logan; apabila dirinya berhasil mendapatkan nilai 10 di Ujian Nasional matematika, Logan harus memberi Daza kesempatan untuk mendekatinya.

‘Meet the Sennas’ ditulis dengan menggunakan sudut pandang pertama Daza, yang menurut saya menjadi salah satu keunggulan buku ini karena, seriusan, Daza itu kocak parah! Guyonan-guyonan khas Daza yang cenderung sarkas cukup sering bikin saya cekikikan. Kadang saya juga ikut merasa terharu kalau Daza sudah mulai curhat hal-hal berbau sedih. Intinya, saya jadi lebih bisa menyelami perasaan Daza dengan PoV pertama ini. Sayangnya, hal itu juga membuat karakter-karakter lain seolah “tenggelam”, kurang digali. Logan, contohnya, diceritakan sebagai sosok yang jutek, cool dan cenderung misterius. Orizuka memang sudah menceritakan tentang rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh Logan, tapi…. entahlah, masih ada yang kurang, menurut saya. Rasanya masih ada rahasia lain yang belum dibongkar oleh Logan. Karakter Dalas juga. Dia merupakan tokoh yang cukup penting, lho, tapi kesannya kayak hanya jadi pemanis aja. Mungkin ya karena itu tadi, sih…. kurang digali.

Mengenai konflik, saya cukup bingung juga. Selama membaca, saya sih merasa menikmati. Banget. Beberapa menit setelah selesai baca, saya bahkan masih sedikit cengengesan sisa cekikikan selama membaca buku ini. Tapi, setelah bener-bener menutup buku dan menaruhnya kembali ke rak, saya jadi mikir, “Sebetulnya konfliknya tadi apaan, ya?” Nah, karena judulnya adalah ‘Meet the Sennas’, awalnya saya pikir konfliknya akan fokus pada keluarga Daza. Tapi, setelah selesai baca, menurut saya, konflik utamanya terletak pada kisah percintaan Daza dan nilai matematikanya yang jeblok.

Terlepas dari hal-hal di atas, saya tetap merasa terhibur dengan ‘Meet the Sennas’ ini. Ceritanya mungkin memang teenlit banget, sih. Alur cerita dan ending-nya juga dapat ditebak mau menuju ke mana, tapi…. tetap aja, buku ini menjadi bacaan yang menghibur. Kalau yang sedang cari bacaan-bacaan ringan dan pengin ketawa-ketawa, bisa coba baca ‘Meet the Sennas’. Dan, ya, lagi-lagi, saya belum merasa kecewa dengan buku Orizuka. Semoga nggak akan pernah. :)

Friday, September 7, 2012

Review: After School Club - Orizuka

Judul: After School Club
Penulis: Orizuka
Penerbit: Bentang Belia
Tebal: 240 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 4/5
Book Synopsis:
Aneh, Ajaib, Norak. Tiga kata itu pas untuk menggambarkan penghuni kelas After School. Kelas ini juga dianggap sebagai kelas anak-anak “bodoh” oleh seluruh warga sekolah. Gara-gara nilai Fisikanya jeblok dua kali berturut-turut, Putra harus masuk kelas itu. Ini jadi aib yang serius bagi Putra yang terkenal cool dan populer. Apalagi kalau ayahnya yang angker dan penuntut sampai tahu, bagaimana dia menjelaskannya?

Tiap hari Putra harus tahan banting menghadapi keusilan anak-anak After School. Ditambah lagi, Cleo, ketua genk After School diam-diam menyukainya. Keusilan anak-anak After School meningkat dua kali lipat demi membantu Cleo PDKT.

Bencana bagi Putra seakan jadi bertumpuk-tumpuk. Musibah apa lagi setelah ini?

.....

After School Club adalah kelas tambahan yang diadakan setelah jam sekolah usai bagi para murid kelas X dengan nilai kurang. Kelas tersebut dikenal oleh sebagian besar warga sekolah sebagai tempatnya orang-orang bodoh - atau, mereka bilang, dodol. Putra, seorang cowok yang dikenal cool dan populer, terpaksa harus masuk ke kelas After School karena nilai sekolahnya menurun. Pada awalnya, Putra merasa sangat enggan untuk masuk ke kelas tersebut karena menurutnya hal itu sangat memalukan, terlebih ketika ia mengetahui bahwa anak-anak After School ternyata begitu aneh dan usil setengah mati. Belum lagi kalau ayahnya yang otoriter tahu, bagaimana ia harus menjelaskannya? Namun, seiring berjalannya waktu dan banyaknya hal-hal yang Putra lakukan bersama anak-anak kelas After School, pikirannya mulai berubah dan ia jadi betah. Putra tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang dirasa membosankan akan menjadi lebih berwarna karena kelas After School tersebut.

Hanya melihat dari judul dan cover-nya aja, saya tau bahwa "After School Club" merupakan novel teenlit, jadi saya nggak menaruh ekspektasi apa-apa. Dan hasilnya... nggak mengecewakan! Awalnya, saya mikir kalau orang seumuran saya udah nggak pantes baca teenlit. Kalau baca, pun, saya pasti bakal ngasih berbagai komentar sinis tentang betapa labilnya para ABG ini *sok tua*. Tapi... ternyata saya menikmati banget, lho, bacanya! Dan nggak ada satu komentar sinis pun yang keluar dari mulut saya. Malahan, saya jadi sering senyum - bahkan ketawa - ketika membaca berbagai perilaku khas anak SMA yang lucu, seru, nyebelin, dan... bikin kangen.

Sesuai dengan kebanyakan tema yang diangkat oleh novel teenlit, "After School Club" pun mengangkat tema serupa, yakni berkisar antara persahabatan, sekolah, keluarga, dan dibumbui dengan percintaan khas anak SMA. Adegan-adegan yang disuguhkan nggak terkesan dilebih-lebihkan; saling mengolok, ngejodohin temen, ngerjain guru, dan lain-lain. Dialognya juga mengalir lancar. Namun, hal yang lumayan mengganggu di pikiran saya, yaitu tentang Cleo yang menyukai Putra. Walaupun ditulis di sinopsis bahwa Cleo diam-diam menyukai Putra dan cewek itu diceritakan suka menggoda dan mengusili Putra, tapi saya nggak bisa lihat di mana tanda-tanda rasa suka Cleo terhadap Putra. Mungkin adegannya bisa ditambah  dengan Cleo yang deg-degan setiap kali melihat cowok itu atau Cleo yang memikirkannya setiap malam atau... yah, apapun lah.

Sedangkan, mengenai karakter, saya cukup puas. Kalau dipikir-pikir lagi, saya memang selalu puas terhadap karakter-karakter lovable yang diciptakan Orizuka di buku-bukunya; mulai dari Ares di 'Summer Breeze'; the fantastic four Sid, Rama, Lando, dan Cokie di 'High School Paradise', Nino di 'Our Story', sampai Juna di 'With You'. Karakter Putra sendiri menurut saya kayak campuran dari nggak pekanya Sid, sweet-nya Rama, dan juteknya Lando. Sedangkan Cleo mengingatkan saya dengan Julia di HSP, rame dan usil banget soalnya! Yang juga cukup menarik perhatian adalah karakter Mario dan Ruby, duo maut di Kelas After School yang tingkahnya selalu bikin ketawa saking bodoh dan lucunya.

Menurut saya, Orizuka kembali berhasil membuat novel teenlit yang santai, nggak rumit, dan nggak menye-menye. Nggak perlu berpikir keras untuk menikmati buku ini, just let the story flows. Oh ya, saya juga suka dengan pembatas bukunya yang kecil nan lucu. Good job, Orizuka! Saya nungguin karya-karya selanjutnya, ya! ;)

Wednesday, May 2, 2012

Review: Unbelievable - Winna Efendi

Judul: Unbelievable
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 262 halaman
Tahun terbit: 2009
Rating: 3/5
Sinopsis:
In the world of popularity, being perfect is everything. Kamu adalah pusat perhatian, jadi pastikan kamu memang layak mendapatkannya. 

Kamu juga harus mengerti, tujuan tampil sempurna adalah demi dibenci. Di dunia kami, dibenci dan dicemburui adalah sebuah pujian. So true, Dahling! Orang-orang seperti tak bosan bergosip tentang Paris Hilton, tetapi apa yang dia dapat di kemudian hari? Kontrak reality show sendiri dan signature perfume yang dijual di seluruh dunia. 

Cantik itu wajib hukumnya dan kesempurnaan adalah segalanya. Pastikan kau selalu tampil memesona dan bungkam mereka dengan senyuman terbaikmu. Satu kesalahan kecil saja - voila! - bibir-bibir ber-lipgloss itu pasti ramai menghabisimu...

.....

Hampir sama seperti kedua novel seri 'Glam Girls' sebelumnya, 'Unbelievable' yang ditulis oleh Winna Efendi dan (masih) diterbitkan oleh Gagas Media ini bercerita tentang clique-nya Rashi, Maybella, dan Ad di Voltaire International School (VIS) yang serba wah, high class, dan glamor. Bedanya, kali ini, ceritanya datang dari sudut pandang Maybella, si bule yang menjadi 'Maybelline girl' pertama dari Asia.

Kehidupan May bisa dibilang sempurna. Hampir sempurna. Dengan wajah indo-nya yang cantik, postur tubuh ideal, materi yang berlimpah, selera fashion yang oke, dan juga kenalan-kenalannya yang berasal dari kalangan 'atas', May sukses menjadi one of the most popular girls in school. Namun, sebenarnya, ia mempunyai masalah yang disimpan rapat-rapat.

May pernah benci pada Rashi. Tepatya, iri. May merasa bahwa Rashi telah merebut spotlight-nya--merebut atensi orang-orang darinya. May nggak mau hal itu terus terjadi. Akhirnya, atas bujukan Marion (mantan anggota clique), May mengkhiananti Rashi. Dulu. Ia pernah membuat petisi, menulis hal-hal buruk tentang Rashi di kamar mandi sekolah, dan terpaksa membeberkan rahasia keluarga Rashi karena desakan Marion.

Kini, semua sudah berlalu. Tidak ada yang pernah tau mengenai dark secret May. Namun, begitu Marion mendekati dan 'mengingatkan' May tentang persekongkolan mereka di masa lalu, May mulai waspada. Ia sadar telah dijebak Marion. Dan, untuk membungkan mulut Marion, May berusaha mati-matian untuk memenuhi permintaan Marion. Jika tidak, hidupnya yang sempurna, reputasinya yang top, dan segalanya... akan hancur.

Dari ketiga seri 'Glam Girls', 'Unbelievable' adalah yang paling saya suka. Ceritanya begitu mengalir ringan dan ceria. Saya bahkan bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan May saat ia terlibat konflik. Juga, saya paling suka adegan-adegan saat May bersama Mario (I won't tell you who Mario is. But, one thing, he is sooo sweet. And adorable!).

Yang saya kurang begitu suka adalah kehidupan May dan kedua sahabatnya yang kayaknya 'ngawang' banget. Nggak berpijak ke bumi. Yang sering ada di pikiran mereka adalah shopping, fashion, party, boys! Yah, kecuali si Ad yang memang pada dasarnya adalah seorang kutubuku.

Tapi, secara keseluruhan, buku ini bagus kok. 'Hawa' SMA-nya dapet banget!

Review: Reputation - Tessa Intanya

Judul: Reputation
Penulis: Tessa Intanya
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 356 halaman
Tahun terbit  2009
Rating: 2/5
Paperback Sinopsis:
Kamu melihat kami berkilauan setiap hari. Tatanan rambut kami selalu sempurna, bahkan sejak bangun tidur. Kamu bilang, kami mengeja‘Chanel’, ‘Fendi’, dan ‘Prada’ lebih cepat daripada ‘Geometri’. Menurutmu, kami cantik—dan diam-diam benci setengah mati karenanya. Kadang, kamu juga berharap kamulah yang dikerumuni cowok-cowok itu—bukan kami. Malamnya, dalam doa kamu bertanya, kenapa Tuhan bisa sebegitu nggak adilnya.

But, here’s the truth. Setiap pagi, kami ngabisin waktu lebih lama di depan cermin karena kami sadar, penampilan glamor nggak sesederhana Miley Cyrus make wig pirang dan, poof, jadilah Hannah Montana. Kami bisa juga kok mengeja ‘Geometri’—meskipun JARANG BANGET make kata itu dalam percakapan sehari-hari. Dan tentang cantik... well, itu anugerah. Kalo kamu benci kami karena sesuatu yang dibawa sejak lahir, apa akan adil kalo kami juga membencimu karena pintar? Dan tentang cowok-cowok itu, kamu nggak tahu kan kadang-kadang mereka bisa jadi sangat posesif dan menyusahkan.

Jadi gimana, masih berani bilang Tuhan itu nggak adil?

.....

'Reputation' adalah novel kedua dari seri 'Glam Girls' yang ditulis oleh Tessa Intanya dan diterbitkan Gagas Media. Novel ini diceritakan dari sudut pandang Rashi, the leader of the clique. Rashi digambarkan sebagai cewek SMA yang cantik tapi jutek, unbelievably rich, and mean as hell.

Sebenarnya, ceritanya cukup simpel, yaitu tentang Rashi yang bisa melakukan apa aja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Nah, salah satu konfliknya datang dari Dico, seorang cowok yang membuat blog untuk menjelek-jelekkan Rashi karena ia tidak suka dengan cewek itu. Belum lagi, Rashi juga harus menghadapi sang Ibu yang sepertinya hanya peduli pada popularitasnya saja.

Di dalam novel ini juga disebutkan banyak banget barang-barang branded yang bahkan baru saya denger namanya. Juga, saya suka cara penulis menyebut kata 'God' dengan 'Gawd', atau 'hot' dengan 'hawt'. Well, mungkin memang kesannya novel ini identik banget untuk cewek, sih, tapi menurut saya bagus juga kok untuk bacaan cowok yang pengen tau lebih dalam tentang dunia cewek.

Namun, nggak tau kenapa, saya merasa agak bosan saat membaca novel 'Reputation' ini, padahal bahasanya juga enak banget dibaca. Mungkin cuma masalah selera aja, sih. Overall, novel ini lumayan kok. Pas untuk bacaan ringan di sore hari sambil nyemil dan minum teh.