Showing posts with label John Green. Show all posts
Showing posts with label John Green. Show all posts

Sunday, February 10, 2013

Review: An Abundance of Katherines - John Green

Judul: An Abundance of Katherines
Penulis: John Green
Penerbit: Speak
Tebal: 229 halaman
Tahun Terbit: 2006
Rating: 3,7/5
Paperback Synopsis:
When it comes to relationships, Colin Singleton's type is girls named Katherine. And when it comes to girls named Katherine, Colin is always getting dumped. Nineteen times, to be exact. On a road trip miles from home, this anagram-happy, washed-up child prodigy has ten thousand dollars in his pocket, a bloodthirsty feral hog on his trail, and an overweight, Judge Judy-loving best friend riding shotgun - but no Katherines. Colin is on a mission to prove The Theorem of Underlying Katherine Predictability, which he hopes will predict the future of any relationship, avenge Dumpees everywhere, and finally win him the girl.

.....

Selama hidupnya, the washed-up child prodigy Colin Singleton telah memacari sembilan belas cewek yang, weirdly true, semuanya bernama Katherine. Sayangnya, pada hari kelulusan SMA-nya, Katherine XIX mencampakkannya, membuatnya merasa begitu sakit hati dan depresi. Hassan, sahabat Collin, pun berinisiatif untuk mengajak Colin melakukan road trip. Selama beberapa hari, mereka hanya mengendarai mobil tanpa tujuan pasti. Hingga ketika tiba di Gutshot, Tennessee, Colin dan Hassan memutuskan untuk stay karena hal menarik yang ditawarkan kepada mereka. Bersama cewek bernama Lindsey yang mereka kenal di sana, Hassan dan Colin pun menjalani "petualangan" yang, bisa dibilang, cukup dadakan. Di sisi lain, Colin yang masih merasa sakit hati akan putusnya hubungannya dengan Katherine XIX, sedang berusaha untuk membuktikan The Theorem of Underlying Katherine Predictability, yang ia harap dapat digunakan untuk memprediksi masa depan suatu hubungan.

Sejujurnya saya sempat mengernyitkan kening, keheranan, ketika tau bahwa kesembilanbelas cewek yang pernah dipacari Colin, semuanya bernama Katherine. Tapi, di sisi lain, hal tersebut justru terdengar unik dan malah membuat saya tertarik untuk langsung meng-klik tombol 'buy' di website Periplus! Hahaha! Mungkin terdengar aneh dan nggak mungkin, ya, sembilan belas pacar dengan nama yang persis sama—dan semuanya selalu berakhir dengan kurang bahagia. Poor, poor Colin boy.

Untungnya ada Hassan yang dengan ikhlas membantu mengurangi rasa sakit hati Colin dengan mengajaknya melakukan road trip. Nah, ini nih yang menurut saya menjadi kekuatan dari buku ini, yaitu friendship antara Colin dan Hassan yang cukup kuat dan bikin saya salut. Lagi-lagi John Green berhasil menciptakan—dan mempertahankannya sepanjang cerita—chemistry antara sang tokoh utama dan sahabatnya. Apalagi, kali ini, latar belakang kedua orang tersebut begitu berbeda; Colin separuh jewish, sedangkan Hassan merupakan seorang muslim—bukan teroris. Mereka berdua masing-masing punya rasa toleransi yang cukup tinggi sehingga dapat menghargai satu sama lain. Mereka bahkan mempunyai sebuah kata random yang digunakan apabila ada perlakuan dari mereka berdua yang dirasa keterlaluan. Sweet, riiiiight? Namun, bukannya lantas mereka jadi nggak pernah bertengkar. They did, of course, tapi alasannya bukan karena perbedaan latar belakang tersebut. Di sisi lain, adanya perselisihan-perselisihan itu lah yang sering bikin saya ketawa ketika membacanya. Untuk hal ini, Hassan successfully stole Colin’s spotlight! Berbanding terbalik dengan Colin yang lumayan serius, doyan menyendiri sambil membaca, geeky dan anagram-happy, Hassan merupakan orang yang doyan banget bercanda, bahkan ketika ia lagi marah. Hmm, intinya sih mereka melengkapi satu sama lain.

Sedangkan, mengenai jalan ceritanya, John Green menggunakan alur maju-mundur. Kita diajak flashback ke masa-masa tentang bagaimana awalnya Colin dikenal sebagai child prodigy, bagaimana ia bertemu dengan Katherine pertamanya, mengapa ia sangat menyukai anagram, dan masih banyak hal lainnya. Awalnya saya ngerasa bahwa bagian flashback ini kurang begitu penting dan berpengaruh dengan bagian yang masa sekarang, tapi seiring berjalannya cerita, semakin saya terus baca… well, those flashback stories did matter. Jadi, saran saya, sih, membaca “An Abundance of Katherines” ini nggak usah terlalu dipikirin. Just let the story floooow. Saya aja nggak kerasa bacanya, tiba-tiba udah mau habis. Padahal, awalnya, sejujurnya saya agak meng-underestimate buku ini karena banyak review yang bilang kalau “An Abundance of Katherines” is the least favorite book of John Green.

Oh ya! Bagi yang kurang begitu suka dengan matematika (kayak saya :p), jangan kaget ketika menemukan banyak persamaan atau grafik matematika dalam buku ini. Selama berada di Gutshot, Tennesse, Colin berusaha untuk membuktikan The Theorem of Underlying Katherine Predictability menggunakan berbagai macam formula matematika. Sebetulnya hal yang dilakukan Colin tersebut menarik banget, tapi karena dasarnya saya kurang tertarik dengan begituan, makanya saya kadang sengaja men-skip bagian tersebut. Daaaan, satu lagi. I was a bit pissed off by the tiny annotations on the bottom of the book. Jadi, membaca buku ini juga menurut saya butuh ketekunan dan kesabaran yang cukup tinggi. Hahaha! Well, mungkin itu cuma saya aja, sih, soalnya saya termasuk orang yang kurang sabaran.

In the end, I have to follow the trend and say that by far, “An Abundance of Katherines” is my least favorite book of John Green, but it’s still very very worth to read and I thoroughly enjoyed it. So, if you haven’t read this book, what are you waiting for, sitzpinkler?

Sunday, February 3, 2013

Review: Will Grayson, Will Grayson - John Green & David Levithan

Judul: Will Grayson, Will Grayson
Penulis: John Green & David Levithan
Penerbit: Speak
Tebal: 310 halaman
Tahun Terbit: 2011
Rating: 4/5
Paperback Synopsis:
One cold night, in a most unlikely corner of Chicago, Will Grayson crosses paths with. Will Grayson. Two teens with the same name, running in two very different circles, suddenly find their lives going in new and unexpected directions, and culminating in epic turns-of-heart and the most fabulous musical ever to grace the high school stage.

.....

Buku ini diceritakan dari dua sudut pandang pria remaja SMA yang memiliki nama sama, yakni Will Grayson yang ditulis oleh John Green dan will grayson yang ditulis oleh David Levithan. Pada suatu malam, Will Grayson dan will grayson—yang sebelumnya tidak pernah saling mengenal—bertemu tanpa sengaja untuk pertama kalinya. Mereka sama-sama terkejut ketika salah satu dari mereka menyebutkan nama. Kisah kedua Will grayson ini ditulis secara bergantian tiap bab, membuat saya pribadi nggak merasa bingung dan dapat menyelami masing-masing karakter secara lebih dalam.

Will Grayson yang pertama merupakan remaja yang cukup normal, cenderung pemalu dan memilih untuk nggak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Ia merasa bahwa hidup akan lebih mudah dijalani dengan tidak ambil pusing dengan orang-orang di sekitarnya. Hal-hal tersebut lah yang membuat saya tahu bahwa Will Grayson with the capital “WG” ini merupakan tulisan John Green, karena sejujurnya Will Grayson sedikit-banyak mengingatkan saya dengan Pudge di “Looking for Alaska” dan Q di “Paper Towns”—which I actually liked, no matter what people said about those characters. :p Yang juga membuat kisah Will Grayson menarik untuk dibaca adalah adanya kehadiran Tiny Cooper, sahabat Will Grayson yang berbadan besar (berbanding terbalik dengan namanya!), unik, ajaib, menyenangkan dan merupakan seorang homoseksual.

Sedangkan will grayson versi David Levithan memiliki kisah yang lebih gloomy. He always looked sad, depressed and complicated. Ia juga merupakan seorang homoseksual yang tidak ingin diketahui oleh orang lain—terutama orang-orang di sekitarnya. Bukan karena ia malu, tapi lebih karena ia merasa bahwa hal tersebut bukanlah urusan orang lain. Seluruh kisah will grayson ditulis menggunakan huruf kecil. Setiap percakapannya bahkan tidak menggunakan tanda baca seperti yang biasa saya lihat dalam berbagai novel, melainkan hanya menggunakan tanda baca “titik dua”. Namun, di balik eksterior keras yang ditunjukkan oleh will grayson, menurut saya ia hanya merasa kesepian. Sebenarnya ia bahkan merupakan seseorang yang baik dan cukup lembut—apalagi ketika menyangkut hal-hal tentang… well, love.

Buku ini merupakan karya kedua David Levithan yang saya baca setelah “The Lover’s Dictionary”. Makanya saya kurang tau bagaimana gaya Levithan menulis karakter-karakter dalam novelnya, mengingat bahwa “The Lover’s Dictionary” berisi tentang kehidupan cinta seorang lelaki yang diceritakan menggunakan format kamus. Nah, sejak awal membaca “Will Grayson, Will Grayson” dan saya tau bahwa kedua karakter dalam buku ini ditulis oleh dua penulis berbeda, saya sudah yakin banget bahwa saya pasti akan lebih menyukai Will Grayson versi John Green. But, in the end, I had to say that I love will grayson, too! I love Will Grayson, I love will grayson, I LOVE THEM BOTH! I felt like I could relate myself to both of them. Ada beberapa hal, baik dari Will Grayson maupun will grayson, yang mengingatkan saya dengan diri saya sendiri. 

Selain karena karakter-karakter yang bagi saya begitu lovable, hal yang membuat saya betah membaca buku ini adalah ceritanya; sederhana tapi meaningful. Saya bisa ngerasain bagaimana Will Grayson dan will grayson, di usia remaja mereka, berusaha untuk menemukan jati diri dengan cara masing-masing... bagaimana jatuh-bangunnya mereka. Itulah kenapa penulisan kisah Will Grayson dan will grayson yang dilakukan secara bergantian tiap bab, menurut saya, cerdas banget.

Namun, saya agak menyayangkan karakter Will Grayson yang pesonanya agak tertutup oleh Tiny Cooper. Well, Tiny Cooper memang muncul juga dalam bagian will grayson, namun tidak sampai membuat karakter will teralihkan. Bukan berarti saya jadi nggak suka dengan karakter Tiny. He’s nice, funny, cheerful and friendly. I even wondered how it felt like to have a best-friend like him. Saya mau satu yang kayak Tiny dalam hidup saya! …Tapi saya tetep menyayangkan hal tersebut. Saya bahkan kadang ngerasa kalau buku ini sebenarnya secara umum menceritakan tentang Tiny Cooper—terutama ketika memasuki bagian akhir buku.

Nah, menyangkut bagian akhir, saya sendiri bingung harus bersikap gimana. Saya ngerasa suka dan kurang sreg pada saat bersamaan, tapi saya nggak punya ide ending yang lebih baik untuk buku ini. Sejujurnya saya tersenyum seneng ketika selesai membacanya, namun di sisi lain saya juga ngerasa bahwa ending-nya terlalu… hmm, dreamy? Terlalu mirip film? Oh, I know! Terlalu… Glee, mungkin? No?

But, well, I still love this book. Saya suka bagaimana Will Grayson dan will grayson berusaha mencari jati diri dan menghadapi kehidupan dengan cara masing-masing—dan bagaimana hal itu mengingatkan saya sama diri saya sendiri. Saya suka bagaimana Tiny Cooper sering kali membuat cerita dalam buku ini menjadi lebih light up. Saya suka bagaimana gaya bercerita John Green dan David Levithan membuat saya ketawa, terharu, senyum-senyum sendiri, bahkan ikutan marah.

So... I appreciate you, John Green and David Levithan, eventhough my name is not Will Grayson!

Tuesday, November 27, 2012

Review: Looking for Alaska - John Green

Judul: Looking for Alaska
Penulis: John Green
Penerbit: Speak
Tebal: 221 halaman
Tahun Terbit: (Edisi) 2012
Rating: 5/5
Paperback Synopsis:
Before. Miles "Pudge" Halter's whole existence has been one big nonevent, and his obsession with famous last words has only made him crave the "Great Perhaps" (François Rabelais, poet) even more. Then he heads off to the sometimes crazy, possibly unstable, and anything-but-boring world of Culver Creek Boarding School, and his life becomes the opposite of safe. Because down the hall is Alaska Young. The gorgeous, clever, funny, sexy, self-destructive, screwed-up, and utterly fascinating Alaska Young, who is an event unto herself. She pulls Pudge into her world, launches him into the Great Perhaps, and steals his heart.

After. Nothing is ever the same.

.....

"Looking for Alaska" bercerita tentang seorang remaja laki-laki nerd bernama Miles "Pudge" Halter yang suka banget membaca buku biografi orang-orang terkenal (or not so famous) dan menghapalkan kata-kata terakhir mereka sebelum meninggal. Salah satu favoritnya adalah kata-kata terakhir dari seorang penyair bernama François Rabelais yang berbunyi 'I go to seek a Great Perhaps'. Selama hidupnya, Pudge merasa belum menemukan sesuatu yang hebat dan fantastik. Maka, demi menemukan great perhaps dalam hidupnya, suatu hari Pudge pun memutuskan untuk pindah ke sebuah boarding school bernama Culver Creek di Alabama, tempat yang sama di mana Ayahnya dulu pernah bersekolah. Di sana, ia pun bertemu dengan teman-teman yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Sekilas, mungkin ringkasan cerita "Looking for Alaska" terdengar seperti novel-novel teenlit yang sering kita temui di berbagai toko buku. But, booooy, you're so wroooong! Lagi-lagi saya harus kasih standing applause seheboh-hebohnya pada John Green atas karakter-karakternya yang luar biasa di buku ini. Selain Pudge yang cukup nerd dan gawky, ada pula teman sekamar Pudge bernama Chip "Colonel" Martin yang, bisa dibilang, bertolak belakang dengan Pudge. Namun, hal tersebut justru yang membuat mereka seolah melengkapi satu sama lain. Ada pula Takumi, seorang murid asal Jepang yang sesekali mencuri spotlight sang tokoh utama karena kemampuan nge-rap-nya! And, last but not least, the gorgeus, attractive, smart, funny, sexy, bad-ass, and unforgettable Alaska Young. Interaksi yang terjadi di antara mereka terasa begitu nyata, membuat saya jadi pengin berteman dan ikut melakukan hal-hal seru bersama mereka!

John Green juga masih berhasil mengaduk-aduk emosi saya, dari senyam-senyum sampe mewek, dengan gayanya bercerita yang asyik, seru, dan begitu mengalir--sampai saya nggak sadar bahwa sudah membaca sekian halaman. Oh ya, buku ini juga memiliki banyak kata-kata keren yang relatable banget dengan kehidupan. Hebatnya, John Green lantas nggak terkesan menggurui. Saya bahkan memberi highlight pada beberapa bagian yang saya suka.

Menurut saya, "Looking for Alaska" merupakan buku yang ketika selesai dibaca, dapat menimbulkan senyum penuh haru - dan sedikit mewek - pada pembacanya. Ehm, well, at least that happened to me. Namun, di sisi lain, saya pribadi juga merasa lega dengan ending yang ditulis oleh John Green walaupun sejujurnya saya nggak merasa begitu penasaran dengan ending-nya. Saya bahkan sengaja membaca buku ini pelan-pelan karena nggak mau ceritanya berakhir dengan cepat. Dan ketika, mau nggak mau, saya sampai pada halaman terakhir, saya langsung merasa kayak kehilangan seorang teman. :( *sobs*

So, John Green, thank you so much for writing this book. Like what the "after" part said on your paperback synopsis; nothing is ever the same. And, yes, Mr. Green, my life will never be the same after I read your book. But, still, thank you. New books, please? :')

Saturday, August 25, 2012

Review: Paper Towns - John Green

Judul: Paper Towns
Penulis: John Green
Penerbit: Speak
Tebal: 305 halaman
Tahun Terbit: 2009
Rating: 5/5
Paperback Synopsis:
Quentin Jacobsen has spent a lifetime loving the magnificently adventurous Margo Roth Spiegelman from afar. So when she cracks open a window and climbs back into his life--dressed like a ninja and summoning him for an ingenious campaign of revenge--he follows.

After their all-nighter ends and a new day breaks, Q arrives at school to discover that Margo, always an enigma, has now become a mystery. But Q soon learns that there are clues--and they're for him. Urged down a disconnected path, the closer he gets, the less Q sees of the girl he thought he knew.

.....

Sebetulnya, sebelum lebaran tiba, saya sudah selesai membaca 'Paper Towns'. Namun, karena masih harus mempersiapkan keperluan lebaran, bekal mudik, dan lain-lain, makanya baru bisa nulis review-nya sekarang. Hehehe. Jadiii, mohon maaf lahir dan batin, ya! Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H bagi yang merayakan! *telat* :p

'Paper Towns' berkisah tentang seorang laki-laki remaja bernama Quentin Jakobsen yang jatuh cinta pada Margo Roth Spiegelman, tetangganya, sejak mereka masih kecil. Seiring dengan berjalannya waktu, dengan Margo yang cukup populer dan semua sifat geek yang dimiliki Q, hubungan mereka berdua menjadi semakin menjauh. Pada suatu malam, Margo secara tiba-tiba menyelinap menemui Q melalui jendela kamar cowok itu. Ia meminta bantuan pada Q untuk meminjamkannya mobil - dan menemaninya - berkeliling kota demi menunaikan misi balas dendam pada beberapa orang yang telah menyakiti hatinya. Q tentu saja tidak dapat menolak permintaan Margo tersebut. Seluruh hal menakjubkan yang terjadi pada malam itu membuat Q jadi merasa lebih memahami Margo. Anehnya, pada keesokan paginya, Margo malah menghilang. Dengan dibantu oleh tiga orang teman dekatnya, Q berusaha memecahkan berbagai klu yang, ia yakini, sengaja dibuat oleh Margo khusus untuknya karena cewek itu ingin Q menemukan dirinya. Namun, semakin jauh Q melangkah, semakin ia sadar bahwa Margo begitu berbeda dengan yang diketahuinya dan dipikirkannya selama ini. Bahwa selama ini, Q hanya melihat Margo sesuai dengan apa yang dirinya sendiri proyeksikan tentang cewek itu.

Sejujurnya, setelah membaca 'The Fault in Our Stars' yang bagi saya juara banget itu, saya nggak menaruh eskpektasi yang terlalu tinggi terhadap 'Paper Towns'. Saya ngerasa sedikit khawatir juga: gimana kalau ceritanya membosankan? Gimana kalau saya berhenti membaca di tengah jalan? - and there were still many 'how if' that crossed my mind at that time. Tapi, begitu saya buka bukunya, saya malah nggak sadar sudah membaca sekian halaman dan saya menikmati itu! Banget! 'Paper Towns' memang bukan 'The Fault in Our Stars' yang cukup mengharukan, sebaliknya, 'Paper Towns' malah cukup sering bikin saya tegang. Lagi-lagi gaya bercerita John Green bikin saya ikut larut dalam usaha menemukan Margo di buku ini. Saya suka bagaimana John Green konsisten merajut kata-kata yang begitu youngish, funny, tapi juga masih banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil.

Dan saya harus memberikan applause pada John Green atas karakter-karakternya dalam 'Paper Towns' ini. Saya jatuh cintaaaa! Memang nggak semuanya lovable, sih, ada juga yang bikin sebel dan gregetan, tapi mereka terasa pas banget aja gitu. Like, each character really fits the story very well. Dalam buku ini, Margo adalah satu-satunya karakter yang saya suka tapi juga saya benci. Saya suka bagaimana dia digambarkan begitu vulnerable di balik eksteriornya yang ceria, ceplas-ceplos, dan restless. Tapi saya terkadang juga sebel dengan keegoisannya yang kayaknya nggak tau waktu banget itu, pake kabur-kaburan segala tanpa pikir panjang dulu. But if Margo didn't disappear, then where would the story come from?

Karakter favorit saya udah jelas banget deh: Quentin. Saya suka sifat geek-nya dan *spoiler!* bagaimana dia rela tidak menghadiri wisuda kelulusan SMA-nya demi menemukan Margo. Salah satu sahabat Q yang bernama Ben juga terkadang mencuri spotlight sang tokoh utama. Tiap kata yang keluar dari mulutnya hampir selalu bikin ketawa. Keanehan dan kelucuannya lah yang sering mencairkan suasana dalam berbagai adegan yang cukup serius dan menegangkan. Lalu, Radar, sahabat Q yang lain, memiliki karakter yang bertolak belakang dengan Ben, seolah saling melengkapi. Radar merupakan orang yang cukup serius, internet genius, namun tidak "selurus" Q yang kurang doyan menghadiri berbagai macam pesta atau acara yang ramai. Untuk hal tersebut, Radar kompak dengan Ben. Namun, kedua lelaki tersebut begitu kompak membantu Q untuk mencari Margo. Persahabatan mereka memang nggak mengandung hal-hal semacam bromance gitu, sih, tapi saya suka dengan interaksi antar mereka bertiga. Terasa real.

Meski saya cukup sebel dengan beberapa karakter dalam 'Paper Towns', namun saya harus ngaku bahwa setelah selesai membaca buku ini, I found myself cope hardly with reality. I couldn't even start reading a new book for the next few days. I was like, "What will happen with Q and Margo next?" 'Paper Towns' juga mengingatkan saya bahwa kita (seharusnya) nggak boleh merasa kecewa apabila orang-orang yang ada di sekitar kita, bahkan yang dekat dengan kita dan sudah kita kenal lama, tiba-tiba berubah. Karena bisa saja hasil dari perubahan tersebut merupakan "wajah asli" mereka dan kita terlalu terpaku dengan proyeksi pikiran kita tentang mereka, sehingga kita merasa kecewa karena mereka menjadi berbeda dengan apa yang kita pikirkan.

Wednesday, August 15, 2012

Review: The Fault in Our Stars - John Green

Judul: The Fault in Our Stars
Penulis: John Green
Penerbit: Dutton Books
Tebal: 318 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 5/5
Book Synopsis:
Despite the tumor-shrinking medical miracle that has bought her a few years, Hazel has never been anything but terminal, her final chapter inscribed upon diagnosis. But when a gorgeous plot twist named Augustus Waters suddenly appears at Cancer Kid Support Group, Hazel s story is about to be completely rewritten.

.....

I don't know what to write, actually. "The Fault in Our Stars" is my very first John Green's. Dan sebenarnya ceritanya standar, tentang anak perempuan berumur 16 tahun yang mengidap thyroid cancer stadium empat bernama Hazel Grace Lancaster. Ia begitu sadar bahwa dirinya bisa "pergi" kapan saja, dan ia sudah siap akan hal tersebut. Saat menghadiri Support Group, Hazel bertemu dengan Augustus Waters, seorang anak laki-laki berumur 17 tahun yang sedang dalam masa pemulihan dari penyakit osteosarcoma-nya. Sejak saat itu, baik hidup Hazel maupun Augustus pun tak lagi sama.

Kalau baca ringkasan ceritanya aja, mungkin novel ini terkesan melankolis dan cengeng banget. Well, kalau melankolis, mungkin iya. Tapi... cengeng? I don't think so. Cara John Green merajut kata demi kata terasa enak banget untuk dibaca. Asyik. Nggak membosankan. Dan... nggak cengeng. Sejujurnya memang "The Fault in Our Stars" ini bikin saya sempat nangis walaupun nggak sampai tersedu-sedu. Cuma sebatas berkaca-kaca. But, still, nggak cengeng. Di satu sisi, novel ini memang heartbreaking banget deh, apalagi ketika - spoiler! - mulai masuk bagian-bagian terakhir. Namun, di sisi lain, membaca kisah Hazel dan Augustus ini terasa heartwarming sekali. Bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama, saling menguatkan, berdiskusi tentang hidup dan kehilangan, pujian-pujian serta humor-humor yang saling mereka lontarkan, dan lain-lain. Nggak kehitung deh berapa kali saya mendesah penuh keharuan *lebay* sambil memegangi dada ketika membaca novel ini. :')

Saya juga sukaaaa sama karakter-karakter di novel ini. Terasa nyata. Hazel yang realistis, Augustus yang ceria, dan bagaimana kedua orangtua mereka begitu protektif dan cemas terhadap mereka... digambarkan dengan cukup baik oleh John Green. I love how they interact to each other! Rasanya kayak lagi dengerin mereka bercakap-cakap aja gitu. Dan dari percakapan-percakapan tersebut, saya pribadi jadi menemukan banyak quotes keren yang benar-benar relatable banget sama kehidupan ini! 

Well, mungkin saya menilai novel ini terlalu berlebihan. Tapi, bukannya pada akhirnya semua balik lagi ke selera masing-masing? Hehehe. Yang jelas, satu pesan yang nancep banget di pikiran saya, yang sekaligus merupakan salah satu quotes favorit saya dalam novel ini adalah bahwa, "The world is not a wish-granting factory."

Menurut saya, inti kekuatan dari "The Fault in Our Stars" ada pada kelebihan John Green dalam meracik kata-kata. Dan hal tersebut lah yang membuat saya ingin membaca karya-karyanya yang lain. I already bought his "Paper Towns" and I'll read it as soon as I can. I will.