Tuesday, November 27, 2012

Review: Looking for Alaska - John Green

Judul: Looking for Alaska
Penulis: John Green
Penerbit: Speak
Tebal: 221 halaman
Tahun Terbit: (Edisi) 2012
Rating: 5/5
Paperback Synopsis:
Before. Miles "Pudge" Halter's whole existence has been one big nonevent, and his obsession with famous last words has only made him crave the "Great Perhaps" (Fran├žois Rabelais, poet) even more. Then he heads off to the sometimes crazy, possibly unstable, and anything-but-boring world of Culver Creek Boarding School, and his life becomes the opposite of safe. Because down the hall is Alaska Young. The gorgeous, clever, funny, sexy, self-destructive, screwed-up, and utterly fascinating Alaska Young, who is an event unto herself. She pulls Pudge into her world, launches him into the Great Perhaps, and steals his heart.

After. Nothing is ever the same.

.....

"Looking for Alaska" bercerita tentang seorang remaja laki-laki nerd bernama Miles "Pudge" Halter yang suka banget membaca buku biografi orang-orang terkenal (or not so famous) dan menghapalkan kata-kata terakhir mereka sebelum meninggal. Salah satu favoritnya adalah kata-kata terakhir dari seorang penyair bernama Fran├žois Rabelais yang berbunyi 'I go to seek a Great Perhaps'. Selama hidupnya, Pudge merasa belum menemukan sesuatu yang hebat dan fantastik. Maka, demi menemukan great perhaps dalam hidupnya, suatu hari Pudge pun memutuskan untuk pindah ke sebuah boarding school bernama Culver Creek di Alabama, tempat yang sama di mana Ayahnya dulu pernah bersekolah. Di sana, ia pun bertemu dengan teman-teman yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Sekilas, mungkin ringkasan cerita "Looking for Alaska" terdengar seperti novel-novel teenlit yang sering kita temui di berbagai toko buku. But, booooy, you're so wroooong! Lagi-lagi saya harus kasih standing applause seheboh-hebohnya pada John Green atas karakter-karakternya yang luar biasa di buku ini. Selain Pudge yang cukup nerd dan gawky, ada pula teman sekamar Pudge bernama Chip "Colonel" Martin yang, bisa dibilang, bertolak belakang dengan Pudge. Namun, hal tersebut justru yang membuat mereka seolah melengkapi satu sama lain. Ada pula Takumi, seorang murid asal Jepang yang sesekali mencuri spotlight sang tokoh utama karena kemampuan nge-rap-nya! And, last but not least, the gorgeus, attractive, smart, funny, sexy, bad-ass, and unforgettable Alaska Young. Interaksi yang terjadi di antara mereka terasa begitu nyata, membuat saya jadi pengin berteman dan ikut melakukan hal-hal seru bersama mereka!

John Green juga masih berhasil mengaduk-aduk emosi saya, dari senyam-senyum sampe mewek, dengan gayanya bercerita yang asyik, seru, dan begitu mengalir--sampai saya nggak sadar bahwa sudah membaca sekian halaman. Oh ya, buku ini juga memiliki banyak kata-kata keren yang relatable banget dengan kehidupan. Hebatnya, John Green lantas nggak terkesan menggurui. Saya bahkan memberi highlight pada beberapa bagian yang saya suka.

Menurut saya, "Looking for Alaska" merupakan buku yang ketika selesai dibaca, dapat menimbulkan senyum penuh haru - dan sedikit mewek - pada pembacanya. Ehm, well, at least that happened to me. Namun, di sisi lain, saya pribadi juga merasa lega dengan ending yang ditulis oleh John Green walaupun sejujurnya saya nggak merasa begitu penasaran dengan ending-nya. Saya bahkan sengaja membaca buku ini pelan-pelan karena nggak mau ceritanya berakhir dengan cepat. Dan ketika, mau nggak mau, saya sampai pada halaman terakhir, saya langsung merasa kayak kehilangan seorang teman. :( *sobs*

So, John Green, thank you so much for writing this book. Like what the "after" part said on your paperback synopsis; nothing is ever the same. And, yes, Mr. Green, my life will never be the same after I read your book. But, still, thank you. New books, please? :')

Review: Kukila - M. Aan Mansyur

Judul: Kukila
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 3,5/5
Paperback Synopsis:
Nak, dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada.Batang pohon mangga tetap selutut persis prasasti batu. Ia berdiri mengekalkan dosa-dosa—dan dosa adalah pemimpin yang baik bagi penyesalan-penyesalan.

Kukila adalah perempuan itu, yang membenci September dan pohon mangga. Hidupnya didera rasa bersalah yang besar, kepada mantan suaminya, mantan kekasihnya, dan anak-anaknya. Kepada suratlah dia berbicara dan kepada pohon-pohonlah dia menyembunyikan masa lalu, karena rahasia, konon, akan hidup aman dalam batang-batang pohon.

Selain “Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)”, di dalam buku ini ada dua belas cerita pendek lain, dikisahkan dalam kata-kata Aan Mansyur yang manis, bersahaja, kadang sedikit menggoda.

.....

M. Aan Mansyur menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang membuat timeline Twitter saya terlihat lebih indah dan menarik dengan kata-kata yang ditulisnya melalui akun @hurufkecil. Maka ketika saya tahu bahwa Aan menulis buku kumpulan cerpen berjudul "Kukila", saya cukup excited. Judul yang cantik, begitu pikir saya saat itu. Dan kini, setelah saya selesai membaca buku ini, ternyata nggak hanya judul - dan cover-nya - saja yang cantik, tapi juga isinya! Bedanya, jenis cantik dalam tulisan di buku ini merupakan cantik yang agak nakal. Genit. Dan... ya, sedikit menggoda.

Kata-kata yang digunakan oleh Aan terasa hidup. Gaya bahasanya cenderung formal dan puitis, namun nggak membuat saya kesusahan untuk memahami setiap ceritanya kok. Malahan, saya justru menikmatinya karena setiap cerita terasa begitu mengalir meskipun memang ada satu atau dua cerpen yang kurang berkesan bagi saya. Tapi saya harus kasih applause atas kemampuan Aan dalam menciptakan twist di beberapa cerpen yang sempat bikin saya bengong sesaat ketika selesai membacanya, seperti dalam cerpen berjudul "Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi" yang menjadi salah satu favorit saya selain "Membunuh Mini", "Aku Selalu Bangun Lebih Pagi", dan "Lima Pertanyaan Perihal Bakso". Oh ya, ada juga cerpen yang sebelumnya sudah pernah muncul di buku kumpulan cerpen "Perempuan yang Melukis Wajah", yaitu "Hujan. Deras Sekali.".

Sedangkan judul buku sendiri diambil dari cerpen dengan judul yang sama; "Kukila". Sebuah cerita yang tidak pendek, sebenarnya. Dan entah kenapa cerita ini kurang nancep di hati saya, padahal harus saya akui bahwa permainan alurnya keren, bikin saya harus benar-benar konsentrasi ketika membacanya agar paham dengan cerita yang disampaikan. Nah, saya termasuk orang yang kurang suka menaruh konsentrasi terlalu dalam ketika membaca karena takut cepat bosan. Hebatnya, saya nggak mengalami tuh yang namanya bosan selama membaca "Kukila" - maupun cerpen-cerpen lainnya. But, still, cerpen "Kukila" kurang membekas buat saya. Maaf ya, Aan...

Pada akhirnya, menurut saya, "Kukila" merupakan sebuah buku yang well-written. Cocok banget dibaca di sore hari menjelang senja, di beranda rumah. Good job, Aan! Saya request novel untuk buku yang ditulis selanjutnya, ya! ;)

Thursday, November 22, 2012

Review: Berjuta Rasanya - Tere Liye

Judul: Berjuta Rasanya
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Mahaka
Tebal: 205 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating: 3/5
Paperback Synopsis:
Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan. 

Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu mares keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan. 
Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa dia akan sempat membacanya.

Semoga datanglah pemahaman baik itu. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita, tidak peduli sesederhana apapun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik."

Selamat membaca cerita-cerita Berjuta Rasanya.

.....

This is my very first time reading Tere Liye's book! Sebetulnya saya udah sering mendengar namanya malang melintang di dunia tulis-menulis. Setiap saya ke toko buku, saya selalu melihat minimal salah satu karyanya dipajang di rak di sana. Mulai dari "Hafalah Shalat Delisa", "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin", "Negeri Para Bedebah", "Rembulan Tenggelam di Wajahmu", dan lainnya. Tapi, nggak tau kenapa, saat itu saya nggak merasa tertarik untuk membeli dan membacanya. Saya selalu mengembalikan buku-buku itu ke rak-nya lagi setelah membaca sinopsisnya. I don't know... it felt like there was something that held me back.

....Until I found this book.

Sesaat setelah saya baca sinopsis yang tertera di belakang buku kumpulan cerpen ini, sejujurnya saya sempat terdiam di tempat dan sedetik kemudian, saya jejeritan sendiri dalam hati karena menurut saya, kata-kata di sinopsis tersebut ngena banget! *curcol detected* Jadilah saya tanpa ragu langsung membawanya ke kasir dan menukarnya dengan sejumlah uang. But shame on me, saya sempat mendiamkan buku ini selama kurang-lebih seminggu setelah membaca beberapa halaman awal saja. Selain karena tugas kuliah yang datang melulu (I know that is such a lame excuse!), saya mendadak merasa bosan untuk membaca.

Namun bukan berarti cerpen-cerpen dalam buku ini nggak bagus. Pas saya lagi berhenti membaca, salah satu teman saya cerita kalau semua karya Tere Liye yang sudah pernah dia baca, selalu menyentuh hatinya. Tapi dia bilang kalau dia memang belum membaca yang "Berjuta Rasanya" ini. Jadilah saya tertarik untuk membaca buku ini lagi, dari halaman pertama. Dan kali ini, saya harus bilang bahwa saya menikmatinya! Hehehe maaf ya, Tere Liye...

Buku ini terdiri dari lima belas cerpen yang bertema cinta. Memang ada beberapa cerpen yang membuat saya menaikkan alis dan berpikir, "Kok gini, sih?". Tapi nggak sedikit juga yang bikin saya senyum-senyum sendiri karena ceritanya relatable banget dengan kehidupan cinta yang biasa kita lihat - dan rasakan - sehari-hari. Contohnya dalam cerpen "Hiks, Kupikir Kau Naksir Aku", bercerita tentang seorang cewek bernama Tina yang kegeeran dengan teman cowoknya. Ada lagi "Kutukan Kecantikan Miss X", menceritakan tentang laki-laki yang tidak berani berkenalan dengan perempuan yang disukainya. Atau pada cerpen "Antara Kau dan Aku" yang bercerita tentang laki-laki dan perempuan dengan perasaan saling suka namun keduanya tidak berani untuk mengungkapkan.

Tidak semua cerpen di buku ini memiliki akhir yang bahagia. Ada juga cerpen "Kupu-Kupu Monarch" yang konsep ceritanya melibatkan unsur legenda, bercerita tentang pengorbanan seorang istri terhadap suaminya. Beberapa cerpen bahkan memiliki twist yang cukup asyik untuk dibaca, seperti dalam cerpen "Lily dan Tiga Pria Itu" atau "Harga Sebuah Pertemuan". Judul cerpen yang terakhir saya tulis bahkan mengandung unsur thriller juga.

Maka nggak heran kalau buku kumpulan cerpen ini diberi judul "Berjuta Rasanya" karena, pada nyatanya, secara pribadi saya merasakan emosi saya berubah-ubah ketika membacanya; ya seneng, senyum-senyum sendiri, merinding, senyum lagi, lalu sedih. Buku ini membuat saya ingin mencoba untuk membaca buku-buku karya Tere Liye yang lain. Any suggestions? ;)